Darwin dan Filsafat

200 tahun Charles Darwin
12 Pebruari 2009
________________________

Dua ratus tahun lalu, embrio itu benar-benar meninggalkan rahim sebagai seorang manusia. Sama seperti milyaran proses kelahiran lainnya, namun bedanya, anak ini akan membimbing generasi sesudahnya untuk mengerti bahwa mereka tidak sekedar muncul dari sperma yang ditanam dalam rahim ibu, melainkan jalan sangat panjang semenjak organisme mikro pertama muncul di planet ini. Lima puluh tahun setelah itu, dia memang mempublikasikan pikirannya dalam The Origin of Species, tapi buku itu menanggung beban yang sangat berat: kepercayaan lama bahwa manusia adalah pusat dari realitas, pusat dari seluruh pengetahuan yang mungkin. Darwin bukan orang pertama, tapi agaknya dia menjadi yang teratas untuk dipandang sebagai naturalis yang memberi kabar pada kita bahwa kita telah berubah sama sekali.

Decentring of Human
Nullius in Verba (tidak berdasar kata-kata siapapun)
-Royal Society-

Ernest Gellner mengkategorikan Darwin dalam kelompok orang yang telah melakukan decentring of human, bersama-sama dengan Copernicus, Galileo, dan Freud. Mereka telah menggeser kepercayaan lama tentang manusia sebagai pusat dari realitas. Sama seperti Copernicus yang menolak bumi –planit kediaman manusia- sebagai pusat semesta, Darwin juga menolak manusia sebagai esensi tunggal yang berketetapan. Dalam trees of life, Manusia yang bersama-sama dengan setiap yang kita kategorikan sebagai makhluk hidup, telah berevolusi dalam kurun waktu tertentu dari satu sel tertentu. Dalam skema itu, manusia dirobohkan dari puncak penciptaan sebagai sesuatu yang diafirmasi secara final oleh klaim-klaim agama. Evolusi Darwin adalah sebuah revolusi ilmu pengetahuan, yang dibangun dengan kebanggaan terhadap pengetahuan, telah tiba pada kesimpulan yang menusuk: bahwa manusia lepas dari jubah kebanggaan sebagai yang utuh status ontologisnya. Nyatanya, homo sapiens tidak lebih dari spesies yang lolos dalam seleksi alam, dan dalam proses yang demikian panjang itu memperoleh adaptasi kecerdasan yang memungkinkan upaya epistemologis dilakukan.

Kita bisa melacak asal-usul pertanyaan primordial mengenai realitas, yang kemudian menjadi dasar problem filosofis kemudian hari, pada Plato dan Aristoteles. Meskipun bukan mereka yang pertama, namun mulai mereka saja kita bisa mengenali dokumen yang menyebutkan bahwa filsafat pertama kali sangat berintensi mengejar pengetahuan yang penuh mengenai segalanya.

Apa nature dari seluruh keberadaan ini? Apa yang menyusunnya sehingga demikian adanya yang mampu kita pahami? Setiap kebudayaan memiliki perangkat jawabannya masing-masing, dalam filsafat sendiri, problem ini telah menjadi pertanyaan mendasar yang memprovokasi aliran pikiran sejak Yunani. Basis dasar realitas itu diupayakan dirangkum di dalam pengertian substansi. Upaya epistemologis yang dilakukan awalnya berupa pengandaian spekulatif mengenai alam semesta. Ini adalah aras baru dalam setiap usaha sistematis manusia dalam memahami dunianya, melalui serangkaian spekulasi yang pada mulanya menyelundup di dalam wilayah bernuansa religius. Perpindahan mitos ke logos, tidak serta-merta menegasi kriteria normatif dari pengetahuan manusia. Pemadatan spekulasi itu, sebut saja pra-ilmu pengetahuan, menjadi sebab mengapa sejarah epistemologi berujung pada finalitas, klaim-klaim fondasionalistik, dan total. Realitas kemudian dimengerti sebagai ‘seharusnya’ dan bukan pada ‘adanya’.

Biologi barangkali memang dimulai dengan sebuah upaya sistematis mengklasifikasi spesies. Aristoteles, yang disebut sebagai orang yang mula-mula melakukan taksonomi, menyokong pandangan esensialis bahwa spesies itu eternal. Ia pula yang mula-mula mengkategorisasi fitur-fitur organisme menurut kesamaan yang dimilikinya. Kategorisasi ini didasarkan pada klasifikasi divisi logis, misal “berkaki/tidak berkaki”, “berjalan/merayap”.

Selama berabad-abad, melalui Linnaeus, tipologi Aristotelian ini berlaku, hingga akhirnya Darwin melakukan revolusi terhadap esensalisme semacam itu. Teori evolusi yang diajukan Darwin, sebuah teori yang untuk tiba pada konklusi metodologisnya membutuhkan tahunan observasi, merupakan sebuah dasar untuk menolak gagasan esensialisme dengan menekankan kemampuan bervariasi mestilah ada oleh sebab seleksi alam dan transformasi yang terjadi di dalamnya. Sejak itu, dengan cepat, progresi natural mulai dijadikan pijakan dalam mengorganisir alam. Divisi logis terhadap spesies-spesies yang telah dilakukan Aristoteles kemudian digantikan dengan klasifikasi berdasarkan relasi geneologis, semacam cara berpikir sistem-pohon, meskipun pada perkembangan teori evolusi, tidak semua Darwinian kontemporer menyetujuinya. Biologi modern kemudian tiba pada kesimpulan bahwa ada satu pohon evolusionistik dari kehidupan untuk seluruh spesies –setidaknya ada 1.7 juta spesies- yang merupakan sebuah konsep sederhana mengenai sistematika phylogenetics. Skema ini merupakan afirmasi ilmiah atas fakta biodiversitas. Kenyataannya, belum seluruh spesies teridentifikasi dan terobservasi, namun teori ini telah menjadi limitasi bagi ketidaktahuan itu.

Epistemologi
Que sais-je? (What do I know?)
-Montaigne-

“when on board H.M.S Beagle, as naturalist, i was struck with certain facts in the distribution of the organic beings…”

Setidaknya, Descartes barangkali filsuf yang menegaskan (kembali) epistemologi fondasionalistik dengan diktum cogito ergo sum. Mengeksploitasi jebakan self reference, Descartes meneguhkan kebenaran ontologis diri melalui kegiatan epistemologis. Totalitas diri itu dimungkinkan lantaran penyangkalan atas pikiran adalah negasi atas diri sendiri. Sistem itu menyimpan kepastiannya sendiri, bahwa meragukan apapun justru membuktikan peragu itu ada, itulah diri. Di seberang, Hume meletakkan seluruh proposisi ke dalam kategori partikular. Pembagian antara proposisi analitik dan hipotetik yang mulai dikenalkan Berkeley, diafirmasi Hume dengan menganggap seluruh proposisi adalah partikular. Dengan begitu, kepastian menjadi tiada. Sama halnya, konsep diri pun menjadi absurd sebab eksistensi diri tidak lain sekedar kumpulan persepsi. Semakin intensif upaya mencari ‘pemilik’ dari diri ini, yang ditemui hanyalah properti demi properti berupa kualitas-kualitas perseptual.

Upaya epistemik tentu saja berkorelasi dengan status kesadaran, atau pikiran sebagai fitur kesadaran yang sering dianggap paling kentara. Descartes sudah membayangkan aku yang berpikir, namun seperti yang dipertanyakan oleh Dennett, bila diri tersusun dari milyaran sel yang saling berinteraksi, dan masing-masing bisa diuji secara empirik, lantas masih adakah tempat bagi konsep diri? Darwin telah menunjukkan bahwa manusia tidak lebih sebagai spesies yang bertahan hidup dan muncul sebagai hasil dari lolos seleksi alam. Kemudian hari, dengan ditemukannya struktur DNA oleh Francis Crick dan James Watson, teori Darwinian telah menemukan cara lebih tahan uji untuk menelusuri karakter dan silsilah genetis makhluk hidup, di antaranya manusia. Dengan pengetahuan bahwa kita tidak lebih dari fungsi biologis sebagai produk seleksi alam, di manakah kita bisa menegaskan lagi klaim-klaim lama kita tentang pencapaian-pencapaian epistemik kita?

Modus
Pada dasarnya biologi berkembang di dalam kerangka reduksionisme, yakni menempatkan objeknya sepenuhnya dalam fungsi biologis. Di dalam sejarah disiplin ini, nyatanya ada satu tesis metafisika yang disepakati oleh modus reduksionis dan antireduksionis, yaitu fisikalisme. Fisikalisme adalah sebuah tesis bahwa semua fakta, termasuk fakta biologis, dapat ditetapkan dengan fakta fisika dan kimia. Tepatnya, tidak ada peristiwa, kondisi, dan proses non-fisikal. Begitu juga, biologi tidak lain fisikal. Modus reduksionis berargumen bahwa tesis metafisika punya konsekuensi terhadap penjelasan biologis, yakni mesti lengkap, benar, dan akurat, serta lebih fundamental dalam biologi molekuler. Sementara antireduksionis menolak kesimpulan seperti ini dengan argumen bahwa penjelasan biologi non-molekuler memadai dan tidak memerlukan koreksi, kelengkapan, dan pendasaran makromolekuler.

Seiring kemajuan yang dicapai oleh biologi pasca-Darwin, tetap berlebihan untuk mengatakan bahwa kita telah mengetahui semuanya. Dunia-yang-mungkin masih mengindikasikan bahwa kita tetap tidak mengetahui keseluruhan, meskipun hasrat epistemik untuk menyusun the theory of everything agaknya mendorong kerja ilmiah. Namun, kita bisa menetapkan standar epistemik, yang kita katakan sebagai kerja ilmiah di mana Darwin adalah salah seorang yang menjadi eksponen dalam biologi. Penjelasan Darwin mengenai teori evolusi bisa jadi tidak merangkum seluruh aktivitas organisme, tapi melalui penyimpulan yang panjang, teori itu mestilah necessarily true. Artinya, teori itu mesti bisa menjelaskan fakta-fakta partikular yang sedang dikumpulkan terus-menerus. Ini membedakannya dengan putusan pengetahuan yang accidentally true. Perbedaannya terletak pada eksplanasi. Benar bahwa manusia berbeda dengan simpanse, ini adalah accidentally true. Sementara teori evolusi lebih mampu memberi eksplanasi mengapa fakta itu terjadi, ini yang kita sebut necessarilly true. Pembedaan ini tidak bisa menyangkal bahwa dunia-yang-mungkin masih punya banyak peluang untuk dimengerti secara berbeda. Yang membuat teori evolusi Darwin penting –dan nyatanya teori ini berevolusi- adalah limitasi terhadap ketidaktahuan yang lebih besar terhadap dunia-yang-mungkin itu.

Ekspansi Darwinian

Neurath has likened science to a boat which, if we are to rebuild it, we
must rebuild plank by plank while staying afloat in it. The philosopher
and the scientist are in the same boat….
-W.V Quine-

Francis Crick pernah mengungkapkan bahwa filsafat berurusan dengan problem tidak terselesaikan. Dalam studi kosmologi, Stephen Hawking dengan nada sama pun menyebut filsuf sebagai ilmuwan yang kehilangan pekerjaan. Apa yang dimaksud keduanya barangkali merujuk pada kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan, sementara filsafat masih bertekun dengan persoalan yang sama tanpa banyak ekspansi pengetahuan. Di dalam tubuh filsafat sendiri, eliminativisme, seperti yang muncul dari W.V Quine telah menyadari bahwa tidak ada gunanya menempatkan kriteria epistemik normatif, khas epistemologi, di atas yang deskriptif milik ilmu pengetahuan. Nyatanya, baik filsafat dan ilmu pengetahuan tidak bisa mengklaim pengetahuan paripurna. Sebagaimana sebuah teori bisa dirobohkan, epistemologi pun serupa. Ketidaklengkapan adalah nuansa yang kentara dalam wajah ilmu pengetahuan kontemporer. Dengan demikian, bukan hal yang mengejutkan bila pada akhirnya, filsafat dan ilmu pengetahuan, saling menginfiltrasi. Problem belakangan yang sedang berusaha dipecahkan banyak mengeksplorasi gagasan Darwinian dalam studi filsafat. Ekspansi Darwin telah tiba di tanah studi kebudayaan, studi kesadaran, bahasa dan psikologi.

Darwin banyak dikutuk sebab gagasannya telah menanggalkan status sentrum manusia. Tidak hanya itu, teori evolusi belakangan dimengerti sebagai substrate netral –sebagaimana Dennett definisikan- yang artinya menghapus mimpi Hegelian soal tujuan absolut. Seluruh rangkaian kehidupan bertopang di atas prinsip buta, sehingga kita hanya tahu cara bertahan (means) dan tidak tahu apa-apa tentang tujuan kita (ends). Darwin membawa ketakutan itu jauh ke kedalaman yang tidak pernah dibayangkan oleh orang kebanyakan, agamawan, dan filsuf.

Daftar Bacaan:

Dennett, Daniel. 1995. Darwin’s Dangerous Ideas (London: Penguin Books)

Hull, David L. dan Michael Ruse (ed.). 2007. The Cambridge Companion to Philosophy of Biology (New York: Cambridge University Press)

Peat, F. David. 2002. From Certainty To Uncertainty: The Story of Science and Ideas in The Twentieth Century (Washington DC: Joseph Henry Press)

Quine, W. V. dan J.S. Ullian. 1978. The Web of Belief (New York: McGraw-Hill)

Radick, Gregory dan Jonathan Hodge (ed.). 2003. The Cambridge Companion to Darwin (New York: Cambridge University Press)

Keadilan yang Bekerja

Sepanjang filsafat mengupayakan sophos, gagasan keadilan mulai diperbincangkan secara serius. Bila kita mencoba melacak, setidaknya pada Phadeo Plato, dualisme Platonian sudah membedakan antara ephermal dan eternal.[1] Gagasan kesempurnaan, kebenaran, kebaikan, diandaikan sebagai sesuatu yang eternal, di mana mereka mengambil bentuk limitasi dalam yang ephermal, sebagai salinan yang eternal. Setiap yang ideal disejajarkan dalam level eternal, oleh sebab itu, keadilan riil adalah keadilan eternal. Sekalipun eternal, keadilan ini tidak bisa terjelaskan tanpa dikenali melalui yang ephermal. Di sini kita menemui konsep anamnesis Platonian, sebuah ambiguitas. Yakni, yang eternal adalah yang riil, namun tanpa yang memetic, kita tidak bisa mengingat yang eternal. Karenanya, sudah sejak Plato, gagasan limitasi bisa diungkap. Pada Plato, limitasi terhadap dunia eternal. Oleh Frege, yang eternal ini (yang disebut juga forma) disebut sebagai konsep.

Pada paper ini, saya akan berargumen mengenai limitasi yang diperlukan terhadap konsep keadilan sebagai syarat bekerjanya keadilan.

Problem Keadilan

Keadilan yuridis dipelopori tradisi filsafat era modern. Pada John Locke, J.J. Rousseau, dan Thomas Hobbes, kita mencermati kemunculan kontrak sosial. Peluang munculnya kontrak sosial pada ketiga pemikir ini sebetulnya berbasis pada gagasan antropologi yang berbeda. Pada Rousseau, prinsip antropologi positif yang mengatakan nature manusia baik, menjadi dasar bagi kemunculan kontrak sosial yang tujuannya merawat nature itu dalam wilayah sosial. Kontras, prinsip yang dipegang oleh Hobbes adalah antropologi negatif, bahwa untuk menyudahi chaos, kontrak perlu dibuat untuk merasionalkan kebinatangan manusia. Hobbes percaya kontrak sosial akan menaikkan status ontologis manusia; dari binatang ke human being. Kondisi homo homini lupus mewujud dalam perang sesama, di mana Hobbes berargumen bahwa perlu kekuatan lain untuk mentransformasi kondisi itu ke perdamaian.

“Out Of Civil States, There Is Always War Of Every One Against Every One Hereby it is manifest, that during the time men live without a common Power to keep them all in awe, they are in that condition which is called War; and such a war, as is of every man, against every man. For WAR, consist not in Battle only, or the act of fighting; but in a tract of time, wherein the Will to contend by Battle is sufficiently known: and therefore the notion of Time, is to be considered in the nature of War; as it is in the nature of Weather. For as the nature of Foul weather, lie not in a shower or two of rain; but in an inclination thereto of many days together: So the nature of War, consisted not in actual fighting; but in the known disposition thereto, during all the time there is no assurance to the contrary. All other time is PEACE.”[2]

Meskipun berbeda pada basis ontologisnya mengenai manusia, upaya mengejar keadilan sebenarnya berdiri di atas lebenswelth yang dihidupi bersama-sama. Keadilan hanya menjadi problem dalam situasi manusia yang tidak terisolir dari sesamanya. Oleh sebab itu, basis keadilan adalah sosial. Keadilan bukan upaya final di dalam kontemplasi filosofis tanpa diderivasi secara sosial.[3] Gagasan apapun mengenai keadilan dalam inferensi logis semata –apapun kesimpulannya-, tanpa disertai limitasi bukanlah problem keadilan, melainkan problem logis. Keadilan adalah soal peluang aktual, bukan peluang logis belaka.

Saya bersepakat dengan John Rawls mengenai konsep keadilan. Rawls berargumen bahwa secara universal kita memiliki intensi terhadap konsep keadilan. Problem keadilan bagi Rawls adalah soal konsepsi; bagaimana menerjemahkan keadilan universal itu.

Limitasi terhadap Konsep Keadilan

Fisika Newton bertahan sekitar tiga abad. Konsep fisika pertama dari Newton adalah gerak.[4] Ironisnya, konsep gerak ini menjadi absurd pada level makrokosmis sebab ketiadaan limitasi. Sederhananya, gerak dimengerti sebagai perpindahan dari satu vektor ke vektor lainnya. Pada level mikrokosmis (pengalaman sehari-hari), konsep gerak ini mudah dijelaskan. Artinya, perpindahan antar-vektor bisa dimengerti sebab kita selalu punya acuan. Misalkan, dalam sebuah ruangan, saya berpindah dari sudut x ke sudut y. dapat dimengerti bahwa saya bergerak karena ada acuan ruangan (tembok-tembok). Artinya, kita bisa mengidentifikasi mana sudut x dan mana sudut y. ruangan itu adalah limitasi untuk dapat menjelaskan konsep gerak secara masuk akal. Problemnya ada pada level makrokosmis (semesta). Newton percaya bahwa alam semesta (ruang) tidak berhingga keluasannya. Gagasan ini sebenarnya datang dari geometri Euclidean. Dengan begitu, konsep gerak pada level makrokosmis tidak bisa terjelaskan sebab ketiadaan acuan; ketiadaan limitasi. Artinya, kita tidak bisa menentukan mana vektor x dan mana vektor y.

Tanpa limitasi ruang (yang tak berhingga itu), problem gerak menjadi problem logis (nada sinis mengatakan pseudo-logic). Hanya dengan limitasi, problem gerak menjadi problem fisika, sebab fisikalitasnya mampu diukur. Pada masanya, Newton dan Descartes berkorespondensi dalam perdebatan soal infinitas. Bagi Newton, gagasan keberhinggaan Cartesian tampak tidak masuk akal ketika ia menerapkan deret tak berhingga.[5] Dalam matematika, Newton disibukkan dengan ketegangan antara infinitas dan infinitesimal. Keduanya adalah konsep ketidakberhinggaan; yang satu tak berhingga besarnya, sementara lainnya tak berhingga kecilnya. Galileo sudah menegaskan problem ini dengan mengatakan bahwa kita berada di antara infinitas dan indivisible (infinitesimal).[6]

Barulah pada Einstein, limitasi diberlakukan pada geometri Euclidean, dengan menyimpulkan alam semesta berhingga namun tak-terbatas. Einstein menyadari dilema Newtonian ini dan menyelesaikannya dengan menerapkan saran astronom bernama Seeliger. Diandaikan pada jarak sangat jauh, gaya tarik antara dua massa akan berkurang lebih cepat dibanding hukum kebalikan kuadrat. Dengan limitasi seperti ini, kerapatan rata-rata materi bisa tetap di mana-mana (hingga tak-berhingga jauhnya) tanpa menyebabkan medan gravitasi tak-berhingga besarnya.[7] Limitasi Seeliger ini meniadakan pusat dalam semesta sekaligus memodifikasi fisika Newton. Einstein sendiri memberikan kurva elips pada geometri Euclid (bahkan Descartes) untuk sampai pada kesimpulan bahwa semesta berhingga.

Saya kira hal yang sama berlaku pada konsep keadilan. Konsep keadilan harus diberi limitasi agar mampu bekerja. Tanpa limitasi, konsep keadilan hanya menjadi problem logis, bukan problem aktual. Bila ini terjadi, maka kekerasan performatif oleh inferensi logis terhadap konsep keadilan itu sendiri terjadi. Problem keadilan yang datang dari situasi sosial yang aktual boleh jadi diperbincangkan secara logis, namun harus mampu memberi peluang-peluang aktual. Instalasi sosial (hukum, misalnya) memang tidak bisa mereferensikan secara rigid konsep keadilan, namun hanya dengan cara limitasi (ditegaskan) konsep keadilan itu bisa dijelaskan (dan diperdebatkan).

Cateris Paribus bagi Konsep Keadilan

Konsekuensi dari argumen saya (dan juga Rawls) adalah: mengakui bahwa terlalu banyak peluang mendefinisikan konsep keadilan itu berdasarkan konsepsi berbeda-beda. Artinya, konsep keadilan yang diandaikan universal itu harus menemui kemungkinan terjauhnya: partikularitas keadilan. Oleh sebab itu, argumen ini harus berhadapan dengan gagasan-gagasan relativitas, ketidakpastian, bahkan nihilistik mengenai keadilan.

Limitasi adalah prinsip konkresi yang membuat sesuatu konsep mampu dijelaskan dalam sebuah skema normatif. Terhadap konsep keadilan yang eternal itu, argumennya adalah lakukan limitasi untuk membuatnya bekerja secara ephermal. Limitasi berarti juga mencari satu dasar yang final untuk menjelaskan ketidakfinalan konsepsi keadilan. Dasar itu adalah cateris paribus (sesuatu yang diandaikan tetap). Pada fisika, perbedaan kualitatif relativitas Einstein dengan ruang absolut Newton tidak berarti Einstein mengabaikan suatu cateris paribus. Bahkan dalam ruang dan waktu yang relatif itu, kecepatan cahaya diandaikan tetap; sebagai cateris paribus untuk memahami seluruh inersia matematis terhadap konsep gerak. Pada konsep keadilan, cateris paribus itu adalah rasionalitas. Rasionalitas ini bukan dimengerti sebagai end-pursued, melainkan means. Penolakan berada di wilayah end-pursued mensyaratkan kemungkinan salah dalam rasionalitas. Oleh sebab itu, ia menghendaki komunikasi efektif.[8] Saya kira, Nozick sekalipun menyadari hal ini dengan menempatkan utopia sebagai framework bagi gagasannya mengenai keadilan.[9] Meskipun libertarianisme Nozick sulit dimungkinkan secara aktual, namun ia cukup ketat dalam penalaran. Nozick, saya kira, sadar pada kemungkinan gagasannya membeku di dalam inferensi logis semata dengan menyebut soal utopia. Atau, dalam kata-katanya “the framework captures the virtues and advantages of each position.[10]

Limitasi pada konsep keadilan membuka peluang aktual menerjemahkan konsep itu ke dalam ruang publik. Itulah yang dilakukan oleh Amartya Sen, Rawls, dan Habermas. Yakni, soal bagaimana mencapai end-pursued keadilan itu. Satu-satunya cateris paribus untuk membuka peluang membuktikan salah dan membuktikan benar ada pada rasionalitas. Oleh sebab itu, saya tidak memaksudkan limitasi itu sebagaimana pada gagasan relativistik Walter dan gagasan multikulturalisme yang bersembunyi di balik local wisdom, yang tidak bisa diukur melalui prinsip-prinsip universal. Cara membaca Sen, Habermas, maupun Rawls adalah cara membaca means mencapai end-pursued keadilan. Thomas Nagel memberi masukan yang menarik mengenai rasionalitas ini; subjektif ataukah objektif. Problem ini dikenal juga dengan pertanyaan apakah manusia merupakan agen rasionalitas yang netral ataukah ia agen rasionalitas relatif?[11] Pertanyaan ini juga yang sama diajukan kepada penjelasan decision theory, yang berangkat dari tindakan rasional.[12]

Kesimpulan: Keadilan sebagai Kepastian Limitasi

Kesimpulan saya adalah soal keadilan yang bekerja. Yakni, keadilan sebagai kepastian limitasi. Hanya dengan cara itu, keadilan membuka kemungkinan aktual untuk diperbincangkan, tidak jatuh pada realitivisme seperti Walter dan pesimisme Derridean. Keadilan yang bekerja memang harus diakui terlimitasi, sebab hanya itu satu-satunya cara ia mampu dijelaskan dan diperdebatkan dengan satu acuan yakni rasionalitas. Perlu juga ditegaskan bahwa keadilan bukan virtue yang eternal sebagaimana Plato ungkap, melainkan ephermal. Kita tidak bicara soal keadilan ideal, sebuah nomos yang setiap proposisi deskriptif dapat diderivasi darinya. Keadilan bukan semata soal inferensi logis. Keadilan yang mampu bekerja membuka peluang-peluang actual dimungkinkan dengan memberinya limitasi; dalam pengertian tertentu kita dapati dalam serangkaian ‘prosedur’ mencapai keadilan yang diungkap oleh teori-teori keadilan seperti oleh Habermas, Rawls, dan Sen. Meskipun bukan point utama dalam keseluruhan argumentasi ini, liberalisme dapat diandalkan sebagai kerangka keadilan ephermal itu. Sebab, konsep liberalisme mengenai freedom sudah mengandung limitasi aktualnya sendiri: kebebasan orang lain.

Keadilan yang bekerja bukan nomad, yang terisolir dari yang lainnya. Oleh karena itu, perdebatan kita selanjutnya bukan pada definisi keadilan dalam inferensi logis, melainkan gagasan yang berproses dalam rasionalitas untuk membuka peluang-peluang aktual.

Daftar Bacaan

Davidson, Donald. 2001. Essays on Actions and Events (New York: Oxford University Press)

Einstein, Albert. 2006. Relativitas: Teori Khusus dan Umum (terj. Relativity: The Special and General Theory) (Jakarta: KPG)

Gleick, James. 2006. Misteri Apel Newton (terj. Isaac Newton) (Jakarta: Mizan)

Gonick, Larry & Art Huffman. 2001. Kartun Fisika (terj. The Cartoon Guide to Physics) (Jakarta: KPG)

Hausman, Daniel M. (ed.). 2008. The Philosophy of Economics (New York: Cambridge University Press)

Nozick, Robert. 1999. Anarchy, State, and Utopia (Oxford: Blackwell Publishing)

Ridge, Michael. 2005. Agent-Neutral vs. Agent-Relative Reasons (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

Robinson, Howard. 2003. Dualism (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

Thomas Hobbes. 1971. Leviathan (Manybooks.net)

Toulmin, Stephen. 2003. The Uses of Argument (New York: Cambridge University Press)


[1] Lihat Howard Robinson. 2003. Dualism (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

[2] Thomas Hobbes. Leviathan (Manybooks) hlm. 58

[3] Dalam menggunakan kata sosial, yang saya maksud adalah fakta perjumpaan setidaknya antara dua individu. Bukan pengertian khusus mengenai sosial sebagaimana pada studi-studi budaya dan sosiologi.

[4] Larry Gonick & Art Huffman. 2001. Kartun Fisika (terj. The Cartoon Guide to Physics)) (Jakarta: KPG) hlm 3-17

[5] Dalam ketegangan antara infinitas (tak-berhingga besarnya) dan infinitesimal (tak-berhingga kecilnya), limitasi dilakukan dengan menjadikan nol sebagai acuan. Meskipun penerapannya secara kualitatif pada fisika dan geometri menghadirkan kompleksitas pemahaman, namun secara kuantitatif bisa dihitung seberapa besar perbedaan antara bilangan infinitas dan infinitesimal itu terhadap nol. Dengan begitu kita tidak lagi berdebat soal apakah bila ada garis tak-berhingga, maka setengahnya adalah berhingga?

[6] Lihat Gleick, James. 2006. Misteri Apel Newton (terj. Isaac Newton) (Jakarta: Mizan) hlm. 64-68

[7] Albert Einstein. 2006. Relativitas: Teori Khusus dan Umum (terj. Relativity: The Special and General Theory) (Jakarta: KPG) hlm.128

[8] Di sini nuansa diskursus rasional Habermas saya pertahankan

[9] Robert Nozick. 1999. Anarchy, State, and Utopia (Oxford: Blackwell Publishing) hlm.333

[10] Ibid.

[11] Lihat Michael Ridge. 2005. Agent-Neutral vs. Agent-Relative Reasons (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

[12] Cukup bagus membaca analisa Davidson untuk menjelaskan relasi rasionalitas dalam teori dan aksi, relasi kausal, sampai pada kesimpulan psychology as philosophy. Donald Davidson. 2001. Essays on Actions and Events (New York: Oxford University Press) hlm.211

Sekilas tentang Konflik di Gaza

Gila!! Kekerasan memang patut dibenci. Belakangan ini, konflik di Gaza memuncak setelah lebih dari 4oo orang tewas semenjak serangan Israel di kawasan itu hanya dalam beberapa hari. Saya cenderung untuk menunda apa yang diberitakan di media, sebab, barangkali ada perspektif yang lebih komprehensif untuk mencermati fenomena Timur-Tengah. Potongan jurnalistik mengenai kawasan itu membombardir ruang wacana kita, namun, sulit untuk merangkainya jadi sebuah kesatuan pemahaman.

Di masjid dekat rumah saya, khotbah salat Jumat dipenuhi wacana kebencian pada Yahudi. Sang pembicara memulai khotbahnya dengan memberi eksplanasi kepatutan Yahudi untuk dibenci, dengan meminjam beberapa keterangan wahyu. lantas, generalisasi “evil” Yahudi itu diperkeras dengan mengajak siapapun untuk membenci (memerangi) Yahudi. Kasus Gaza adalah pelatuk kebencian itu.

Begini, saya punya hipotesa, bahwa kalaupun situasi antara israel-Palestina di balik, di mana Palestina yang memiliki superioritas dukungan, dana, militer, dan dominasi, sangat mungkin (kalau tidak pasti), memerangi Israel.

Siapapun dalam konflik itu punya potensi kekerasan. Aktualnya hanya soal derajat kemungkinannya saja. kali ini, Israel yang punya kemungkinan lebih besar karena memiliki militer yang lebih baik.

Bisa kita cermati, sebenarnya kedua pihak punya kemungkinan sama besar untuk mempraktikkan kekerasan. Kenapa? Karena yang jadi masalah adalah perkara keyakinan yang final, yang tidak menghendaki dialog. Tanah yang dijanjikan, Bukit Sinai, dsb. diperoleh dari keterangan wahyu yang tidak bisa didialogkan.

Selama problem itu dimaksudkan sebagai problem final, maka kekerasan sudah bermukim di sana. Baik Israel yang menghanguskan Gaza, Hamas yang mengirim rudal, Khatib di masjid, mahasiswa yang memboikot McDonald, semua punya perkara “evil” yang sama. Mereka tengah mempertontonkan kekerasan.

Menggugat Nalar, Menggugat Kepenuhan Manusia[1]

Pada sejarah kita biasa menghirup optimisme kemanusiaan. Berkaca pada sejarah memberi kita efek menenangkan bahwa manusia telah mencapai banyak kemajuan; jauh meninggalkan spesies lain yang masih menggantungkan tangannya di dahan pepohonan dan memenuhi kebutuhan protein dengan menghirup plankton. Manusia sebaliknya, sejauh keyakinan saintifik, telah memenuhi dirinya dengan adaptasi tingkat tinggi yang menyebabkannya tidak lagi bertumpu pada kecekatan tangan dan supremasi organ biologisnya. Dalam perspektif evolusionisme, nalar adalah tempat bergantung nasib manusia untuk meninggalkan kehidupan purbanya. Masalah terbesar yang menghantui kenyataan ini adalah bayang-bayang ketidakberdayaan nalar untuk menanggung beban peradaban.[2]

Nalar sebagai produk evolusi

Soal kepastian prediktif merupakan pertanyaan epistemologis. Klaim apapun yang diajukan, khususnya oleh ilmu pengetahuan, menuntut penyelesaian kriteria epistemologisnya. Perdebatan mengenai kreasionisme dan evolusionisme, misalnya, bisa mempunyai status ilmiah yang selevel. Namun, keduanya harus diurai untuk dilihat kriteria epistemik yang dianutnya. Kenyataannya, sekalipun sama-sama mendaku empiris untuk mendapat status ilmiah, tetap terbuka kemungkinan untuk terus bertikai. Ada konvergensi yang kadang terselesaikan secara prematur dengan seberapa mungkin suatu paradigma dalam ilmu pengetahuan bisa berlaku. Di sinilah apa yang dimaksudkan Kuhn terjadi. Perdebatan antara dua teori dalam lapangan yang sama tidak dijustifikasi berdasarkan validitas konklusifnya, melainkan bagaimana teori itu bisa didaku absah dalam suatu paradigma.

Dalam perspektif evolusi, nalar merupakan produk evolusi khususnya pada bagian otak manusia sepanjang lebih kurang 200.000 tahun. Artinya supremasi otak manusia pada kondisi seperti saat ini bukanlah sebuah komoditas siap pakai yang ditanam dalam tubuh manusia. Kenyataan yang menjadi fondasi bagi pikiran Darwinian adalah fakta mengenai persaingan akibat kelangkaan, sehingga adaptasi sangat dibutuhkan untuk bertahan. Dalam persaingan itu, evolusi terjadi melalui serangkaian mutasi dan variasi, meneguhkan diri pada gagasan the fittest. Otak manusia modern adalah bentuk teraktual yang sejauh ini diketahui sebagai proses yang tengah berjalan dari bentuk hominid purba. Namun uniknya, struktur otak itu diyakini tidak berubah dari yang dimiliki homo sapiens pada 200.000 tahun lalu. Sementara itu studi-studi sejarah menunjukkan perubahan drastis dalam kurun waktu kurang dari 5000 tahun pada ranah budaya. Artinya, perubahan semenjak homo sapiens berupa perubahan kualitatif. Analogi sederhananya, bukan kapalnya yang semakin canggih, tetapi kemampuan mendayungnya yang membaik sehingga lebih efisien. Temuan-temuan dalam studi evolusi memberikan gambaran mengapa pada manusia evolusi dikatakan sebagai progress (kemajuan) sementara pada spesies lain dianggap sebagai adjustment (penyesuaian) belaka.

Titik terpenting yang menjadi dasar bagi para ilmuwan untuk melihat progress itu adalah peralihan fungsi biologis manusia ke wilayah lainnya: budaya, sosial, ekonomi. Mereka tentu saja mengakui adanya keterhubungan biologis manusia dengan spesies lainnya: kemiripan fisiologis, fisiokomiawi, berbagi makanan, dan rantai makanan dalam ekosistem. Begitu juga bagaimana spesies lain memiliki kemiripan dengan fungsi “tahap lanjut” manusia. dalam On Human Nature, Wilson menunjukkan bagaimana perilaku berbagai spesies primata memiliki kemiripan dengan fungsi sosial patriakal pada manusia.[3] Dengan contoh mengenai koloni semut, Wilson memberikan ilustrasi bagaimana struktur sosial yang diklaim unik hanya milik manusia, pun dimiliki semut. Dalam studi evolusi, manusia memang berupaya dikembalikan ke dalam status biologisnya. Konklusinya bisa ditebak, persoalan budaya bisa dijelaskan melalui skema biologi, bahkan mikrobiologi. Lalu, pertanyaan mendasarnya adalah: bagaimana konsep diri (self) bisa muncul dalam satu spesies sementara spesies lain tidak. Kalau dikatakan ada perbedaan kualitatif antara produk evolusi antara manusia dan spesies lainnya, sebesar apa peluang spesies lainnya mengalami tingkat gradasi yang setara manusia?

Dualisme Descartes

Kepenuhan diri manusia, yakni pada usainya konsep self (diri), telah merangkak di sepanjang sejarah filsafat semenjak pra-Socrates. Descartes adalah orang yang pertama kali berdiri dengan tegas menyerukan diktumnya “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada). Ada ambisi dalam pikiran Descartes yang berupaya menerapkan prinsip-prinsip geometri dan matematika ke dalam keseluruhan pengetahuan manusia. Geometri dan matematika diawali dengan suatu aksioma yang pasti. Upaya mengejar kepastian itu uniknya dilakukan dengan memberikan sejumlah penyangkalan atas kepastian.[4] Seleksi terakhir dari keseluruhan penyangkalan itu adalah ketaktersangkalannya penyangkalan; kepastian bahwa ada yang menyangkal; aku. Dengan demikianlah Descartes beranjak dari klaim epistemologi ke ontologi. Keseluruhan ontologisasi aku bisa sama sekali berakhir terlepas dari segala persepsi yang awalnya mengantarkan aku untuk berpikir. Kecurigaan pada jalan ini ditangkap Antonio R. Damasio dengan mengatakan “it suggests that thinking, and awareness of thinking, are the real substrates of being.”[5]

Descartes bukan tidak peduli terhadap pandangan biologis manusia. Ada kecurigaan bahwa model biologi yang berkembang saat itu adalah Aristotelian. Aristoteles telah memberikan sumbangan berarti pada biologi dengan membuat klasifikasi spesies secara sederhana. Namun, sama seperti Aristeteles, Descartes masih terjebak pada pandangan mekanistik. Pertanyaannya sederhana, bagaimana tubuh biologis ini bisa bergerak dan merespon dunia. Sementara Aristoteles berspekulasi mengenai forma dan matter, Descartes lebih memilih untuk melepaskan substansi “penggerak” tubuh itu dari yang digerakkannya. Disembodied mind, sebagaimana dinamai oleh Damasio, telah membawa Descartes kepada persoalan dualisme antara body dan mind.[6] Bila mind (kesadaran) dapat dipisahkan dari body (tubuh), maka bisa saja kita mengujinya tanpa neurobiologi. Damasio bahkan mengolok-olok sebagian dualis dengan mengatakan, “interestingly and paradoxically, many cognitive scientists who believe they can investigate the mind without recourse to neurobiology would not consider themselves dualist.”[7]

Dualisme Cartesian sebenarnya unik sebab tidak semata-mata memisahkan mind dan body. Obsesinya untuk ketat pada kepastian, membuatnya menumpukan gagasan dualismenya pada konsep abstrak tertentu- sebagian besar menilainya sebagai Tuhan. Res cogitan (mind) tidak berkeluasan, tidak mewaktu, dan bukan benda fisikal. Maka itu ia tidak bisa begitu saja terletak di dalam Res extensa (body) yang berkeluasan, padat, dan wewaktu. Penjamin interaksi antar keduanya ditunjuk pada gagasan lebih abstrak (Tuhan).

Serpihan besi yang mengubah diri

Dualism Cartesian sebenarnya adalah model bagi penjelasan kesadaran dengan prinsip kerja komputer. Bila mind adalah software, maka body adalah hardware.[8] Meskipun keduanya dituntut kompatibilitas yang memadai agar bisa bekerja, namun sebenarnya keduanya adalah perangkat independen satu sama lain. Artinya software A bisa bekerja di hardware X atau Z. Kerusakan pada hardware X tidak menyebabkan software A menjadi rusak. Justru, software A ini bisa diinstalasi ulang pada hardware Z.

Damasio memastikan bahwa prinsip gagasan seperti ini keliru dengan melakukan studi terhadap Phineas P. Gage.[9] Gage adalah seorang mandor sebuah perusahaan pembangunan rel kereta api di Vermont. Pada 1848 di usia ke-25 Gage mengalami kecelakaan. Sebuah ledakan membuncahkan serpihan besi merusak tengkorak depan kepalanya. Beberapa waktu kemudian Gage telah pulih dari cideranya, namun perubahan besar terjadi pada Gage. Dr. Harlow yang menanganinya dalam pengobatan memberikan catatan bahwa Gage telah berubah dari satu pria menjadi pria lain. Sebelumnya ia seoarng yang sangat cakap, efisien, sementara setelah kecelakaan menjadi orang yang sangat pemurka, teledor. Singkatnya, Gage telah kehilangan karakter dan keterampilan sosialnya, sehingga itu mengubah sama sekali konsep dirinya. Pada 1861 Gage meninggal, tengkoraknya diawetkan untuk kepentingan studi. Damasio menandai daerah bagian bawah cuping otak depan (ventromedial frontal lobe) yang mengalami cidera sebagai pusat dari keterampilan sosial.

Melalui uji kasus Phineas Gage, tampaknya Damasio hendak membongkar kesalahan Descartes dalam memahami dualitas dan konsep diri. Neurologi sebagai sebuah disiplin banyak mengungkap temuan-temuan baru mengenai hal-hal semacam ini. Kasus-kasus aphasia, yakni kekacauan selektif pada bahasa, dan amnesia, kekacauan pada ingatan, diuji dengan merekonstruksi struktur kerja saraf dan otak. Damasio ingin mengatakan bahwa ada keterkaitan erat antara kesadaran, perilaku, dan otak.

Menggugat nalar

Meskipun lenyap akibat cidera, dari manakah datangnya keterampilan sosial Gage dan seluruh manusia? Perspektif evolusi menunjuk pada tanggung jawab nalar (reason). Ayn Rand dengan sangat baik menunjukkan bagaimana nilai bisa didapat manusia melalui berbagai tahap yang tidak bisa dilakukan organisme lain. Diawali dengan sensasi, manusia mempertahankan sensasi-sensasi itu sehingga menjadi persepsi. Persep-persep itu kemudian diintegrasikan dengan kesadaran menjadi konsep. Kemampuan konseptualisasi ini tidak dimiliki oleh spesies lain. Rand jelas menunjuk pada kemampuan kesadaran manusia sebagai integrator.[10] Di wilayah konsep inilah menurut Rand kita bertikai untuk merumuskan etika.

Nalar sendiri sebetulnya adalah piranti efisiensi. Tesis yang diajukan Donald B. Calne dalam Within Reason mengatakan bahwa nalar sebenarnya berurusan dengan cara (how) dan sama sekali tidak menjelaskan mengapa (why). Gagasan Calne diambil dari Herbert A Simon yang mengatakan, “Reason is wholly instrumental. It can not tell us where to go; at best it can tell us how to get there. It is a gun for hire that can be employed in the service of any goals we have, good or bad.“[11] Dalam berbagai studi terhadap perilaku manusia, neurolog dengan bantuan perspektif evolusi menandai beberapa kemajuan manusia dalam cara-cara menjadi efisien dalam seleksi alam.

Lantas, apakah dengan ketiadaan penjelasan mengenai motif dari dalam nalar sendiri, kita bisa tetap mendaku bahwa manusia telah mencapai progress? Manusia sendiri, sejauh yang kita tahu, telah mengalami momen-momen revolusioner dalam cara pandang kita atas diri kita. Ketika mitos dimatikan, kita berharap banyak pada nalar. Renaisaans semenjak Descartes menandai pertaubatan nalar yang sebelumnya berselingkuh dengan tradisi biblikal. Apakah semua ini merupakan evolusi dalam pengertian mendekati titik terjauh suatu kemajuan?

Melalui Dawkins, kita dikabarkan mengenai tujuan biologis sebagai core dari semua upaya peradaban. Secara absurd, meminjam istilah yang dipakai Albert Camus, kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita cari. Nihilitas nalar semacam inilah yang kemudian diajukan oleh studi-studi kontemporer atas manusia. Melampaui seluruh upaya konseptual kita, nalar pertama-tama memang adalah dimaksudkan sebagai piranti praktis untuk efisiensi semata.

Kesimpulan yang cukup menyedihkan baik bagi mereka yang mengagungkan nalar sebagai penjamin peradaban. Secara epistemik, tipis beda antara rational dan reasonable. Dengan satu gagasan tentang perubahan (change), nalar menyusup ke dalam pidato Obama mengenai masa depan Amerika, sekaligus menitipkan amunisi baru bagi Osama. Seperti yang sudah dikatakan, nalar tidak bertuan. Nalar tidak punya daya cukup untuk kita bebani.

_______________________________

Bacaan:

Herbert A. Simon, Reason in Human Affairs ( Calif, Stanford University Press, 1983)

Ayn Rand,The Virtue of Selfishness (A Signet Book, New York, 1964)

Antonio R. Damasio, Descartes’ Error (Quill: New York, 2004),

John R. Searle, Mind, Language, and Society (Basic Books, New York, 1998)

Edward O. Wilson, On Human Nature, (Harvard University Press, Massachusetts, 1978)


[1] Disampaikan dalam Diskusi ke-4 Klub Darwinian UI, 1 September 2008

[2]Buku yang bagus secara naratif untuk melihat sejarah kemajuan manusia adalah Mankind And Mother Earth, karya Arnold Toynbee.

[3] Edward O. Wilson, On Human Nature, (Harvard University Press, Massachusetts, 1978) hlm. 139

[4]Lex Newman, Stanford Encyclopedia 2005, dalam Descartes’ Epistemology.

[5] Antonio R. Damasio, Descartes’ Error (Quill: New York, 2004), hlm. 248

[6] John Searle menggunakan istilah substance dualism. “if it is mental,it can’t, qua mental, be physical; if it is physical, it can’t, qua physical, be mental.” Lihat John R. Searle, Mind, Language, and Society (Basic Books, New York, 1998) hlm.47

[7] Ibid. hlm 250

[8] Meskipun harus dirinci lagi, secara spesifik yang dimaksud adalah otak.

[9] Antonio R. Damasio, Descartes’ Error (Quill: New York, 2004), hlm. 4

[10] Ayn Rand,The Virtue of Selfishness (A Signet Book, New York, 1964) hlm.13

[11] Herbert A Simon, Reason in Human Affairs ( Calif, Stanford University Press, 1983)

Problem Deduksi dan Induksi

Apakah konklusi yang dihasilkan melalui skema deduksi mengandung derajat kebenaran yang valid secara final? Dan, apakah induksi mengantarkan kita pada pengetahuan yang dapat kita konfirmasikan kepada kebenaran? Atau jangan-jangan memang tidak ada finalitas pada semua skema pengetahuan yang diupayakan manusia?

Deduksi sebagai sebuah metode, yang seringkali diasalkan pada logika Aristotelian, tiba pada konklusi melalui keketatan pada penyusunan proposisi yang benar secara koherensial. Artinya, konklusi ditarik dari kualitas premis minor yang terkandung di dalam premis mayor. Sehingga, konklusi yang dihasilkan sebenarnya adalah derivasi premis mayor/universal. Jika P maka Q, lalu P, maka kesimpulannya adalah Q. Meskipun benar secara logis, deduksi tidak memberikan informasi baru apapun kecuali penegasan atas kebenaran premis mayor. Yang terjadi adalah, deduksi sangat deterministik dalam arti sangat bergantung pada ‘nomos’ yang diletakkan sebagai premis mayor. Setidaknya sejak rasionalisme ditegakkan Descartes, para empirisis –terutama, Hume- menuduh deduksi murni sebagai mulut rasionalis yang menyebar semata-mata kebenaran verbal yang tidak memberikan informasi baru apapun mengenai dunia. Dalam deduksi valid, premis-premis membawa konklusi. Artinya, kebenaran premis-premis memberikan garansi bagi kebenaran konklusi.

Problem deduksi adalah menentukan ‘nomos’/ the law of nature/ premis mayor. Kebenaran konklusi dipertaruhkan dalam kebenaran premis mayor. Sebagaimana Hempel dengan Deduction Nomological (DN), harus benar-benar dibedakan antara yang ‘accidentally true’ dan ‘laws’. Proposisi yang mengatakan bahwa seluruh mahasiswa filsafat UI angkatan 2005 menyukai jazz, dibedakan misalnya dengan proposisi semua gas akan memuai ketika dipanaskan dalam tekanan konstan. Proposisi pertama benar secara ‘accidentally’, tidak menjelaskan mengapa mahasiswa filsafat UI angkatan 2005 menyukai jazz. Sementara proposisi kedua didefinisikan sebagai ‘law’, mampu menjelaskan mengapa misalnya hidrogen memuai. Dalam eksplanasi saintifik, penentuan law itu adalah problem tersendiri misalkan apakah harus Newtonian ataukah Quantum Theory yang absah sebagai ‘nomos’ (premis mayor) untuk menjelaskan pergerakan mars (premis minor). Kekeliruan premis mayor berarti kekeliruan inference.

Induksi pada pengertian tradisional dipisahkan secara rigid dari deduksi untuk menunjuk pada suatu metode saintifik yang berupaya tiba pada konklusi melalui bukti-bukti (evidences) partikular mengenai dunia. Dalam sains, akumulasi bukti-bukti (evidences) bermakna derajat tertentu terhadap sokongan munculnya hipotesis, kalau bukan konklusi. Katakanlah, dalam satu sampel terdapat 20.000 pemulung tidak menyelesaikan pendidikan menengah. Ini sangat kuat menyokong konklusi bahwa semua pemulung tidak menyelesaikan pendidikan menengah mereka. Kelebihan induksi adalah efisiensi. Yakni, merangkum keseluruhan ke dalam sebagian besar fakta partikular teramati. Persoalannya adalah derajat prediktabilitas. Kebenaran konklusi induksi memiliki kadar prediktif, bukan the truth such is. Jika dalam pengalaman saya selama 3 tahun mendapati Pak Budi berbaju warna putih, kesimpulan bahwa Pak Budi besok pasti berbaju putih, bukanlah kepastian, melainkan prediksi. Pengalaman 3 tahun saya mengabaikan pengalaman-pengalaman subjek lainnya terhadap Pak Budi. Sebagaimana dalam judi, prediksi saya pun tidak final sebagai pengetahuan.

Kapitalisme, Katastrofi Ekonomi, dan Isu Kesejahteraan

Apa yang ditakutkan orang-orang atas katastrofi global: krisis finansial, tumbangnya ‘global coorporation’, meningkatnya ‘illegal trading’; adalah ketakutan bahwa sistem yang mereka hidupkan,yakni kapitalisme, menemui jalan buntu sementara alternatif lain yang disodorkan belum mampu diuji secara publik. Ketika gejala-gejala katastrofi terjadi, beberapa model baru ekonomi di luar kapitalisme ditawarkan sebagai substitusi. Apakah kapitalisme –yang berakar pada liberalisme- harus ditolak saat gejala katastrofi global muncul? Lebih khusus, apakah sosialisme mesti ditawarkan ketika krisis finansial Amerika mendominasi perbincangan global?

Salah satu ‘logical fallacies’ (kesesatan logis) yang umum digunakan orang untuk membuktikan satu teori benar adalah dengan membuktikan teori lain salah. Secara hipotetis, bayangkan ada dua teori A dan B. ‘Logical fallacy’ terjadi ketika teori A salah (dinegasi), lantas teori B menjadi benar (diafirmasi). Krisis Amerika diasosiasikan sebagai kegagalan kapitalisme (dan liberalisme), kegagalan yang diartikan sebagai pembuktian bahwa sosialisme adalah yang benar. Padahal, bila A salah, bukan berarti B benar. Bisa jadi C, D, E, atau yang lainnya yang benar. Bukan berarti, bila kapitalisme gagal, maka tesis sosialisme menjadi benar. ‘Logical fallacy’ seperti ini dipergunakan orang untuk menyusupkan gagasan tertentu: sosialisme, syariat Islam, dsb. Padahal, ia tidak meneguhkan yang lainnya benar.

‘Logical fallacy’ lainnya adalah peneguhan ‘accident’ untuk membuktikan ‘antecedent’. Krisis finansial, kegagalan pasar merespon harga, adalah ‘accident’ untuk suatu gejala tertentu. Sayangnya, secara implikatif, ‘accident’ tidak mampu menjelaskan ‘antecedent’. Akibat tidak bisa meneguhkan sebab. Oleh karena itu, konklusi bahwa kapitalisme gagal total tidak bisa dibenarkan melalui peneguhan ‘accident’ berupa krisis finansial. Lantas, ukuran apa yang digunakan untuk menilai kapitalisme (dan dalam level tertentu berarti juga liberalisme) gagal? Umumnya, isu kesejahteraan adalah parameter itu.

Model dominan dalam ekonomi adalah individu berupaya sebaik-baiknya memuaskan preferensi mereka. Model ini menempatkan manusia sebagai rational being, bukan rasional dalam pencapaian akhirnya (end pursued) melainkan rasional dalam kalkulasi cara-cara memenuhi capaian itu.[1] Proponen untuk pengertian ini adalah Hume, yang meyakini rasio sebagai budak dari hasrat. Umumnya sebuah gagasan dimunculkan untuk melayani pencapaian sesuatu, ‘telos’ (tujuan) itu adalah yang dihasratkan terpenuhi. Metode dalam sains dan filsafat juga bekerja dalam pengertian ini: dimaksudkan untuk sesuatu yang lainnya. Kapitalisme, dengan demikian, mempunyai ‘telos’ tertentu: ‘invisible hand’, titik equilibrium, bahkan keadilan. Meskipun, tidak ada jaminan bahwa ‘telos’ itu akan tercapai. Pendekatan ekonomi yang menempatkan manusia sebagai ‘rational being’ tidak mengabaikan pemahaman bahwa ‘the end pursued’ utopis, asalkan distribusi pilihan yang rasional bisa maksimal diupayakan. Inilah karakteristik ‘rational choice model’.

Ukuran yang seringkali digunakan untuk mengevaluasi suatu model ‘political economy’ adalah isu kesejahteraan. Bila tidak mampu merespon positif isu kesejahteraan, maka sebuah sistem mesti ditinggalkan. Kapitalisme memiliki akar –sekaligus wadah- dalam liberalisme. Tesis utama liberalisme adalah: ‘freedom to choose is more important than what is choosen’. Dalam politik, ironi[2] seorang liberal adalah ia bebas memilih namun pilihannya tidak dizinkan mengganggu pilihan orang lain. Sehingga, dalam liberalisme, orang mesti berpegang pada satu kode konstitutif. Bila anda seorang liberal, tentu saja anda harus membiarkan seseorang memilih menjadi milisi religius. Namun sebenarnya, memilih sesuatu (milisi) tidak diizinkan sebab ia akan mengganggu pilihan rasional orang lain. Oleh karenanya, liberalisme mensyaratkan sekularisme. Apapun yang tidak dimungkinkan difalsifikasi secara rasional (misalkan agama) harus dirawat di ruang privat. Kalaupun mau disusupkan ke ruang publik, ia harus disekularisasi, dimungkinkan dinilai salah oleh dialog rasional.

Tesis liberalisme dalam politik berlaku juga dalam ekonomi. Orang bebas memilih sesuatu atas dasar apapun: preferensi, utilitas, maupun value. Kapitalisme sendiri memberikan kemungkinan untuk itu. Persoalannya dengan kesejahteraan adalah: banyak orang tidak mampu memilih atas dasar tingkat kesejahteraan. Seseorang yang menjalankan ibadah puasa misalnya, memilih berpuasa bukan karena tidak bisa memilih untuk makan. Ia berpuasa atas dasar ‘value’ yang diyakininya. Sementara seseorang yang miskin dan tengah kelaparan tidak memiliki pilihan lain selain tidak makan. Amartya Sen membicarakan isu kesejahteraan ini dalam essaynya Capability and Well-Being dengan memperkenalkan term ‘functioning’, ‘capability’, dan ‘value’. “Functionings represent parts of the state of a person – in particular the various things that he or she manages to do or be in leading a life. The capability of a person reflects the alternative combinations of functionings the person can achieve, and from which he or she can choose one collection”.[3] Isu kesejahteraan, demikian, merupakan soal akses. Tesis liberalisme dalam politik mengenai ‘freedom to choose’ mensyaratkan adanya ‘capability’ untuk memilih. Liberalisme politik harus diterjemahkan ke dalam liberalisme ekonomi. Kebebasan memilih presiden dalam pemilu harus berbanding lurus dengan kebebasan untuk memilih makanan hari ini. Untuk isu kesejahteraan ini, keadilan adalah menyediakan akses.

Pustaka:

Davis, John, Alain Marciano dan Jochen Runde (ed.). 2004. Economics and Philosophy (Massachusets: Edward Elgar Publishing)

Hausman Daniel M. (ed.). 2008. The Philosophy of Economics (New York: Cambridge University Press)

Knight, Frank H. What is Truth in Economics?. Journal of Political Economy. Vol.48, No. 1. 1940.

Toulmin, Stephen. 2003. The Uses of Argument (New York: Cambridge University Press)


[1] Shaun P. Hargreaves Heap. Economic Rationality. hlm. 42 dalam John Davis, Alain Marciano dan Jochen Runde (ed.). 2004. Economics and Philosophy (Massachusets: Edward Elgar Publishing)

[2] Secara khusus, Rorty adalah orang yang memperkenalkan istilah ‘public irony’.

[3] Amartya Sen. Capability and Well-Being. Hlm. 271 dalam Daniel M. Hausman (ed.). 2008. The Philosophy of Economics (New York: Cambridge University Press)

Hermeneutika Evolusionistik

Hermeneutika, Konstruksi, dan Dekonstruksi

Hermeneutika secara etimologis berarti to interpret; suatu kegiatan aktif mengintepretasi makna di dalam teks. Dewa Hermes yang seringkali dikaitkan namanya dengan hermeneutika memiliki tugas untuk mentransformasi bahasa dewa ke dalam bahasa manusia agar dipahami. Hermeneutika pertama-tama memang dimaksudkan sebagai kegiatan menyusun makna yang mungkin dari suatu teks. Dalam menentukan kemungkinan makna mana yang diambil, metode yang ditawarkan hermeneutika bermacam-macam. Dari beberapa metode di dalam hermenutika, dapatlah disimpulkan bahwa ada hasrat manusia untuk menemukan makna objektif suatu teks, tidak sekedar menelan mentah-mentah literal teks. Salah satu alasan masuk akal mengapa manusia (dan hermeneutika) berhasrat akan makna objektif adalah kesadaran bahwa teks seringkali muncul sebagai sebuah konstruksi. Teks tidak diartikan semata-mata sebagai literal, melainkan sebagai realitas.

Heidegger melalui fenomenologi mengetengahkan problem lebenswelth, dunia keseharian yang dihayati manusia sebagai dunia yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh manusia melalui tindak intensionalitasnya. Dunia bukan dimengerti sebagai suatu fakta mandiri yang berada di luar subjektivitas manusia, melainkan manusia telah menemukan dirinya terbenam di dalam dunia itu. Dalam keterbenamannya itulah manusia berkecenderungan untuk melakukan proses hermeneutis terhadap realitas sehingga realitas tidak pernah tampil sebagai sesuatu yang orisinil. Di sinilah Heidegger memaksudkan konstruksi sebagai hasil dari proses hermeneutis manusia atas realitas. Oleh sebab itu, dalam filsafatnya, Heidegger berupaya menemukan original meaning dari dunia dengan cara mengangkat lagi bahasa primordial manusia, ia menemukannya sebagai bahasa Yunani kuno. Cara ini dimaksudkan Heidegger sebagai dekonstruksi. Dengan kata lain, konstruksi adalah karakter realitas yang merupakan hasil intepretasi manusia atas realitas, sebab sifat dasar manusia selalu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh dunianya. Hans George Gadamer, seorang murid Heidegger, menggunakan pendekatan fenomenologis-hermeneutis Heidegger ke dalam metode hermenutika miliknya. Gadamer menilai makna objektif hanya mungkin diangkat melalui peleburan cakrawala (fusion of horizons), yakni antara cakrawala teks dan cakrawala interpreter. Pada tradisi post-strukturalis, Derrida menolak adanya original meaning dari sebuah teks. menurutnya, kebenaran hanyalah dapat ditemukan di dalam jalinan intertekstualitas. No exit from language. Ia menggunakan istilah differance (penundaaan) sebagai upaya yang mungkin diambil manusia dalam berhadapan dengan makna. Di sini yang dimaksud Derrida adalah dekonstruksi untuk menemukan teks-teks marjinal.

Bagian dan Keseluruhan

Ketika berhadapan dengan realitas, kita tidak menemukan realitas sebagai sebuah keseluruhan (whole), melainkan berupa bagian-bagian (parts). Jika tiba-tiba anda tertidur dan ketika bangun sudah berada di sebuah tempat yang belum pernah anda kunjungi, maka anda akan berupaya mengenali makna keseluruhan tempat itu dengan cara melihat bagian-bagiannya. Anda melihat banyak pepohonan, rerumputan, mendengar suara-suara hewan, suara air gemericik, dan tidak terlihat satu benda buatan manusia di situ. Melalui pengenalan akan bagian-bagian itulah anda menyimpulkan makna keseluruhan tempat itu adalah hutan. Dari yang partikular kita berupaya menemukan makna universal. Persoalannya adalah, yang keseluruhan tidak serta-merta bisa ditemukan dari yang partikular. Bisa jadi anda tidak berada di sebuah hutan, melainkan sebuah kebun binatang yang luas. Di sini kita menghadapi persoalan metode ilmiah yang berupaya secara induktif mengumpulkan fakta demi hasil yang general. Dengan mengalami burung gagak warna hitam setiap hari, secara keseluruhan tidak berarti semua gagak berwarna hitam- setidaknya belum ada fakta yang menyalahi. Oleh sebab itulah, pendekatan lain yang diambil adalah melihat bagian-bagian melalui keseluruhan. Otak manusia sebenarnya terancang untuk mengenali keseluruhan, minimal mengenali pola atau motif. Sebagai contoh, anda berkunjung ke galeri seni milik Pak Tommy dan ditunjukkan sebuah lukisan kura-kura. Ketika melihat lukisan itu, anda tidak mengenalinya sebagai kumpulan warna dan garis yang dibentuk sedemikian rupa, tetapi anda langsung mengenalinya sebagai sebuah lukisan bergambar kura-kura, tanpa perlu memecahnya menjadi bagian-bagian. Ketika menemui pacar anda, anda tidak memaknainya sebagai kumpulan atom atau tulang yang dibungkus daging dan kulit, tetapi anda langsung mengenalinya sebagai seorang manusia yang anda cintai. Artinya, kesadaran manusia cenderung melihat keseluruhan melalui pola. Hermeneutika menyumbang kritik terhadap ilmu pengetahuan yang cenderung membuat pola besar yang akan diisi oleh fakta-fakta yang mendukung. Tindak kesadaran manusia ini juga tampak dalam penelitian sejarah. Beberapa fakta diintepretasikan dan dibuat jalinannya ke dalam sebuah pola besar sehingga melalui pola itulah fakta-fakta tadi bisa dikenali. Di sini peran intepretasi ilmuwan sangat dominan. Fakta tidak pernah berbicara sendiri.

Hermeneutika Evolusionistik

Filsafat adalah mother of sciences, demikian adagium klasik filsafat. Ketika pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan filsafat belum digeluti secara spesifik oleh disiplin ilmu manapun, filsafat cenderung menjawab pertanyaannya dengan sudut pandang yang sangat luas / general. Kebiasaan ini berubah ketika disiplin-disiplin ilmu mulai bekerja secara mandiri dengan metode ilmiah mereka sendiri. Sebagai contoh, pertanyaan mengenai Tuhan dulu dijawab melaui spekulasi rasionalitas, namun kini mulai dijawab oleh psikologi analisis, sosiologi, antropologi, biologi, neurosains, dan bahkan fisika. Jawaban yang diberikan disiplin ilmu memang bukan jawaban filosofis, dalam arti bukan spekulasi abstrak, tetapi tetap memiliki implikasi filosofis. Oleh sebab itu, arah filsafat mulai ditentukan oleh perkembangan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. Saatnya anak membimbing ibunya. Salah satu penemuan sains yang tidak bisa diabaikan oleh filsafat adalah teori evolusi. Nantinya akan dikenal suatu metode baru dalam hermeneutika, yakni apa yang disebut hermeneutika evolusioner.

Evolusi Darwinian menemukan perubahan kualitatif yang dialami semua spesies demi survival for the fittest. Ini adalah bentuk evolusi biologis / genetis yang dialami spesies untuk mampu bertahan hidup di tengah kompetisi dengan sesamanya. Ilmuwan yang mentransformasi pemikiran Darwinian ke dalam ranah budaya (dan di sinilah hermeneutika berkepentingan) adalah Richard Dawkins, biolog dari Oxford. Bila pada Darwinian evolusi berarti adalah replikasi gen untuk mampu bertahan hidup, maka Dawkins mengenalkan term baru meme sebagai satuan informasi kultural terkecil yang terus-menerus berupaya menggandakan dirinya. Pada dasarnya, kenapa budaya direplikasi oleh meme adalah untuk mempertahankan kelangsungan gen. Dawkins mengenalkan istilah selfish genes sebagai gen yang berupaya menggandakan diri agar kehidupannya terus berlangsung. Melalui sudut pandang genetis seperti ini, yang berkepentingan untuk bertahan hidup adalah gen-gen dan bukan manusia sebagai spesies. Manusia hanyalah sarana untuk kelangsungan hidup gen. meme serupa dengan gen, tetapi ia bermakna dalam ranah budaya. Manusia telah berevolusi secara kultural yang jauh melampaui evolusi genetisnya. Sebagai contoh, mengapa secara moral (dan ini berarti kultural) manusia cenderung mengasihi anak kecil adalah bentuk kultur yang akan membuat orang-orang dewasa merawat anak-anak mereka sehingga kelangsungan hidup gen mereka dapat terus bertahan. Meme mengasihi anak kecil terus direplikasi dan secara tidak sadar menjadi bagian dari kultur spesies manusia. Contoh lainnya adalah agama. Bagi sudut pandang evolusioner, agama adalah kultur yang diciptakan melalui replikasi meme yang berguna untuk menopang kehidupan anti-chaos sehingga gen-gen dapat bertahan hidup. Meskipun, kita dapat mengkritiknya melalui serangkaian fakta partikular mengenai pertikaian antar-agama.

Hermeneutika evolusioner adalah corak pikir hermeneutis yang hendak mengurai makna tradisi dan kultur melalui pendekatan evolusioner. Tradisi atau kultur, melalui pendekatan evolusioner, bertahan karena memiliki nilai aplikasinya bagi kelangsungan hidup manusia. Mengapa agama ada karena memang agama sebagai kultur memiliki nilai aplikasinya bagi manusia, setidaknya untuk memelihara perdamaian yang akan memperpanjang harapan hidup spesies. Dengan kata lain, hermeneutika evolusioner melihat tradisi dan kultur sebagai sebuah konstruksi berdasar nilai aplikatifnya bagi manusia. Persoalannya, kesadaran manusia sudah mencapai titik kualitatif untuk mampu mengurai konstruksi itu secara jernih, katakanlah untuk menemukan original meaning.

Salah satu pertanyaan mengenai hermeneutika evolusioner adalah sejauh apa model berpikir ini bisa mempunyai nilai aplikatifnya. Aplikasi hermeneutika ini dipertanyakan sebab model ini mengajukan klaim bahwa tingkah laku budaya (dan tradisi) manusia dapat diterangkan melalui skema perkembangan evolusi genetis dan kultural. Hermeneutika evolusioner sebetulnya berangkat dari nilai aplikatif teori evolusi yang melihat bagaimana budaya telah direproduksi sedemikian cepat, sebuah kecepatan yang sangat jauh meninggalkan evolusi genetis di belakangnya. Kontribusi gagasan evolusioner ini sebetulnya dapat digunakan untuk mempertanyakan konstruksi budaya yang telah mapan. Salah satu bentuk budaya yang mapan ini adalah agama. Teori evolusi memang menunjukkan bahwa bertahannya agama adalah karena sejauh ini bentuk ini mempunyai nilai gunanya bagi keberlangsungan gen dan meme. Salah satu contoh adalah ajaran yang menjunjung tinggi lembaga pernikahan (bahkan poligami), anjuran berbuat baik, zakat, dan sebagainya. Kesemuanya sebetulnya bertujuan agar chaos tidak tercipta dan merawat insting reproduksi sehingga setiap spesies manusia dapat bertahan hidup yang berarti gen dapat terus campin menggandakan diri.

Hermeneutika evolusioner berguna untuk membongkar konstruksi budaya yang awalnya berfungsi untuk keberlangsungan gen. akan tetapi, kemajuan kesadaran manusia sudah sampai pada titik kualitatifnya untuk mempertanyakan cara-cara intuitif kita dalam memelihara bentuk budaya (sebagaimana dilakukan Daniel Dennet). Hermeneutika evolusioner bukan gagasan untuk merawat budaya, melainkan mempertanyakan bentuk budaya dan sangat mungkin untuk melakukan rekonstruksi budaya dengan memperhitungkan posibilitas replikasi meme. Intinya sederhana, bila agama mampu menggandakan memenya sedemikian rupa, maka anti-agama dapat dikonstruksi dengan pola penggandaaan meme yang sama. []

Kebudayaan yang Memfasilitasi Terorisme


Kebudayaan kita sebenarnya sudah mengakrabi teror. Teror adalah kengerian, kegentaran lantaran berhadapan dengan sesuatu yang alih-alih bisa diatasinya, justru tidak dikenalnya. Karena ketidakmengenalan itu, kengerian semakin padat dan memecah kebudayaan dalam dua kemungkinan: order atau disorder. Pada kurun awal manusia mengupayakan kebudayaan, alam selalu menjadi teror, sumber kekaguman (dan karenanya mitos berkembang) sekaligus ketakutan. Ketegangan antara kekaguman dan ketakutan memberi kita peluang untuk menyusun order, yakni mengupayakan sistem pengetahuan (dan sosial) untuk menjelaskan origin teror itu. Pada banyak hal, kita berhasil, alam tidak selalu menjadi teror, nature (yang alamiah) telah diubah menjadi nurture (budaya). Apa yang dulu dianggap teror: letusan vulkanik, guncangan tektonik, air bah; kini telah dikenali, terprediksi, terpahami, sehingga order mampu diupayakan meski berhadapan dengan hal-hal itu. Dalam soal ini, peradaban kita berhutang pada upaya rasional yang tekun oleh sains dalam menjelaskan misteri. Namun, teror yang sulit dikenali justru tidak datang dari alam, namun dari dalam tubuh kebudayaan itu sendiri. Potensi teror yang membangkitkan disorder, tumbuh di dalam nurture.

Kita mengenal istilah terorisme, yakni upaya sengaja menebar ketakutan. Itulah mengapa kita tidak bisa melekatkan label terorisme pada alam, betapapun menakutkannya kengerian akibat bencana alam. Sederhana, sebab alam tak punya intensi. Berbeda, orang-orang yang punya intensi menebar teror adalah teroris. Klaim-klaim ideologis yang melatari teror tidak pernah bisa dianggap universal. Oleh sebab kita tidak bersepakat dengan klaim-klaim itu, maka terorisme adalah kejahatan demi kejahatan itu sendiri.

Kebudayaan kita sebenarnya telah memfasilitasi setiap potensi terorisme itu dengan merawat gagasan-gagasan final, absolut, dan otoritarian, yang bersembunyi di balik gagasan-gagasan egalitarian, moderat, dan diskursif. Sebagai contoh, sebutlah terorisme atas dasar intepretasi final atas agama. Kita umumnya membenci terorisme itu, namun nyatanya ia mampu bersembunyi di balik sikap-sikap egalitarian. Artinya, kita bersepakat itu sebuah kejahatan, namun enggan menyalahkan piranti final agama sebab banyak orang mempraktikkan agama secara moderat. Kebudayaan kita terus-menerus memberi toleransi meski pada saat yang bersamaan hukum positif ditegakkan.

Saya kira, sangat sulit untuk mengidentifikasi terorisme pada satuan partikular masyarakat tertentu. Satu-satunya yang nyata adalah potensi itu sendiri. Potensi itu berada di dalam budaya finalitas, otoritarianistik, absolut, yang dirawat di dalam semangat militansi. Satu-satunya peluang masuk akal untuk mengeliminir potensi teror adalah dengan mengupayakan kebudayaan yang diskursif, egaliter, hospitality, tidak final. kebudayaan diskursif selalu membuka diri pada komunikasi efektif, rasional, bebas, dan meniadakan klaim-klaim final. kebudayaan semacam ini bisa difasilitasi oleh instalasi politik yang bebas: liberalisme. Sebab, kembali pada primordialisme yang mengental dan itu difasilitasi oleh politik, hanya akan memperbesar kebekuan finalitas. Dan, finalitas selalu menutup dialog. Artinya, satu-satunya cara untuk meyakinkannya pada orang lain adalah dengan teror.

Memang tidak perlu lebih dulu menjadi korban terorisme untuk bisa memahami apa yang dialami korban. Kebudayaan yang memfasilitasi terorisme akan memproduksi dua jenis korban yang lebih banyak: mereka yang terluka dan terbunuh, dan sisanya yang cemas menjadi orang selanjutnya.

From Descartes to Hume: From Certainty to Uncertainty On Epistemology, Metaphysics, and Ethics

In modern philosophy, René Descartes best known as the father of modern philosophy because of his contribution on invented of subject. Before him, philosophy does not care about subject. Especially in middle age, philosophy task was only face the theological assumption. After Descartes, subjectivity has the central position in philosophy. It is why term modern (taken from moderna, which is mean nowness) is attached to philosophy. Descartes implemented geometrical principle into his philosophical project. He was obsessed with certainty, which geometry could give certainty. By methodical doubtful, Descartes did begin inventing a certainty, a bedrock of certainty. He doubted all of things, included all sensorial data, and found ontological state of subject, I, that can not be doubted. I can doubt anything, but that I doubt anything can not be doubted. Extremely, if you try to say “I doubt that I exist”, in fact it proved that you do exist. Shortly, Descartes finally found the bedrock of certainty on the mind and discover its innate ideas: self, identity, substance, and even God.

As an empiricist, David Hume reputed as a man who do shifting paradigm from Descartes’ view. As we know, there is a different principle between rationalism and empiricism especially on the epistemological view. But, why shifting paradigm from Descartes does not to John Locke or Bishop Berkeley? Why Hume? Both on John Locke or Bishop Berkeley, still admitted that there is a substance. On their empiric epistemological view, both of the external world and subject that perceive it, have a substance. Subject that experiences everything is a substance and the external world that perceived has a substance inside. For example on Locke view, there is a real world out there and it has certain real qualities, the primary qualities. These qualities must be quality of a real thing, and the real things are substances.

Hume do empirical thought beyond what’ve done by another empiricist. According to Hume, all we perceive, and definable, were only impressions and ideas. Obviously, both of them do not directly refer to what the real thing in it self. On some interpretation, if Hume sits in a room, he perceives all impression and ideas of a table ahead. He can see its color, which is black; he can smell its scent; he can hear a sound when he knocks it; But, what will happen if all these qualities of impressions were deleted? Of course Hume lost the table! Hume does skeptical thinking of reality. He is the most perplexing of the British empiricists.

What basically Hume do in epistemology and metaphysics (for some reason, both of them can not be separated clearly) conceptually? Hume began with a revival of Leibniz’s analytic-synthetic distinction, on Hume words a distinction between relation of ideas and matters of fact. Analytical proposition are characterized by sentences: whose negation leads to self contradiction; that are a priori; that are true by definition, clear in definition; therefore necessarily true. While synthetic propositions have some characters: whose negation does not lead to self contradiction; that are a posteriori; that are not true by definition; when they are true, they are not necessarily true (can be false). Hume admitted that there are such things as priory necessary truths that held by philosophers, for example mathematics. But, Hume defuses from these things by saying that all tautological are redundant, repetitive, only a verbal truth. By saying this, I interpret, that Hume began to consider all his philosophical view as has synthetic character. This is why Hume does skeptical thought of anything because there is no a real thing unless all impressions we perceive.

Not only the external world, but also subjectivity has synthetic character. If another empiricist (and of course all rationalist) accept subject as a substance, or at least has a substance inside, Hume precisely deny to saying that subject is a substance. Self, which is considered as subject, no more than a bundle of perceptions. Descartes maybe already come to a certainty of a subject, self. But, maybe Hume would say to Descartes: what self? Self on Hume thought is not a clear thing, can not be claimed as tautological. Self is synthetically. If we lost all perceptions qualities, then we will lose the self! Something that can we say about self only imagination about substance of self. Nothing is substance there unless an imagination. Hume quite do shifting paradigm from Descartes. That is, shifting from certainty to uncertainty.

Maybe, Hume did not discuss ethics as a full system of thinking. I meant, ethics is not a central point of Hume thought. It mere derivation from term emotion on Hume words and he discussed it as a moral, for some reason it has a little differences with ethics. When we learn the topic of ethics on any philosophical sketch, perhaps we can categorize the central point of ethics on two ways: subject or object. Where something has a value of good or evil? In subject? Or, in object? Because there is no analytical character of reality, so there is no enough access to know something has good or evil in the object. No good in itself. No evil in itself. Hume escapes from this situation into subject. He talked about passion and emotion that are related to ethics. Shortly, there is no real value of good or evil in it self, but we can “desire” to one form of thing that we value it is good. For example, rob is not have evil in itself, but we (subject) has “desire” (or intention) to value it’s as an evil. Equally, help poor people has no good value in itself, it’s only emotion intention. On my reading on Hume’s, our method to valuing morality (or ethics) is the same method that we apply into, lets say, our preference in fashion.

To summarize, Hume strove with Descartes’ bedrock of certainty by offer uncertainty. His philosophy argues that all things are particular. When Descartes found substance, it was only imagination on Hume. Skeptically, particularly, synthetically, are the ground of all Hume thought in epistemology, metaphysics, and ethics. As Kant was awake up from dogmatic sleeping, I also try to know a way to slip away from dogmatic understanding by reading Hume’s.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.