Problem Deduksi dan Induksi

Apakah konklusi yang dihasilkan melalui skema deduksi mengandung derajat kebenaran yang valid secara final? Dan, apakah induksi mengantarkan kita pada pengetahuan yang dapat kita konfirmasikan kepada kebenaran? Atau jangan-jangan memang tidak ada finalitas pada semua skema pengetahuan yang diupayakan manusia?

Deduksi sebagai sebuah metode, yang seringkali diasalkan pada logika Aristotelian, tiba pada konklusi melalui keketatan pada penyusunan proposisi yang benar secara koherensial. Artinya, konklusi ditarik dari kualitas premis minor yang terkandung di dalam premis mayor. Sehingga, konklusi yang dihasilkan sebenarnya adalah derivasi premis mayor/universal. Jika P maka Q, lalu P, maka kesimpulannya adalah Q. Meskipun benar secara logis, deduksi tidak memberikan informasi baru apapun kecuali penegasan atas kebenaran premis mayor. Yang terjadi adalah, deduksi sangat deterministik dalam arti sangat bergantung pada ‘nomos’ yang diletakkan sebagai premis mayor. Setidaknya sejak rasionalisme ditegakkan Descartes, para empirisis –terutama, Hume- menuduh deduksi murni sebagai mulut rasionalis yang menyebar semata-mata kebenaran verbal yang tidak memberikan informasi baru apapun mengenai dunia. Dalam deduksi valid, premis-premis membawa konklusi. Artinya, kebenaran premis-premis memberikan garansi bagi kebenaran konklusi.

Problem deduksi adalah menentukan ‘nomos’/ the law of nature/ premis mayor. Kebenaran konklusi dipertaruhkan dalam kebenaran premis mayor. Sebagaimana Hempel dengan Deduction Nomological (DN), harus benar-benar dibedakan antara yang ‘accidentally true’ dan ‘laws’. Proposisi yang mengatakan bahwa seluruh mahasiswa filsafat UI angkatan 2005 menyukai jazz, dibedakan misalnya dengan proposisi semua gas akan memuai ketika dipanaskan dalam tekanan konstan. Proposisi pertama benar secara ‘accidentally’, tidak menjelaskan mengapa mahasiswa filsafat UI angkatan 2005 menyukai jazz. Sementara proposisi kedua didefinisikan sebagai ‘law’, mampu menjelaskan mengapa misalnya hidrogen memuai. Dalam eksplanasi saintifik, penentuan law itu adalah problem tersendiri misalkan apakah harus Newtonian ataukah Quantum Theory yang absah sebagai ‘nomos’ (premis mayor) untuk menjelaskan pergerakan mars (premis minor). Kekeliruan premis mayor berarti kekeliruan inference.

Induksi pada pengertian tradisional dipisahkan secara rigid dari deduksi untuk menunjuk pada suatu metode saintifik yang berupaya tiba pada konklusi melalui bukti-bukti (evidences) partikular mengenai dunia. Dalam sains, akumulasi bukti-bukti (evidences) bermakna derajat tertentu terhadap sokongan munculnya hipotesis, kalau bukan konklusi. Katakanlah, dalam satu sampel terdapat 20.000 pemulung tidak menyelesaikan pendidikan menengah. Ini sangat kuat menyokong konklusi bahwa semua pemulung tidak menyelesaikan pendidikan menengah mereka. Kelebihan induksi adalah efisiensi. Yakni, merangkum keseluruhan ke dalam sebagian besar fakta partikular teramati. Persoalannya adalah derajat prediktabilitas. Kebenaran konklusi induksi memiliki kadar prediktif, bukan the truth such is. Jika dalam pengalaman saya selama 3 tahun mendapati Pak Budi berbaju warna putih, kesimpulan bahwa Pak Budi besok pasti berbaju putih, bukanlah kepastian, melainkan prediksi. Pengalaman 3 tahun saya mengabaikan pengalaman-pengalaman subjek lainnya terhadap Pak Budi. Sebagaimana dalam judi, prediksi saya pun tidak final sebagai pengetahuan.

About these ads

About Herdito Sandi Pratama

Dosen Muda Filsafat di Dept. Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia; meminati filsafat ilmu pengetahuan, metodologi, epistemologi, filsafat ekonomi, dan filsafat politik.

Posted on January 3, 2009, in Filsafat. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. prediksi? gw pikir tujuan manusia dr jaman Yunani sampe sekarang yaa brusaha buat memprediksikan sgala sesuatu n ngerumusinnya k dlm order yg sifatnya final n rutin,jd ‘the truth such is’cm utopia(eu-topia/good place n ou-topia/nowhere,), kt cm bs mengimajinasikan ‘the truth such is’!
    Tulisannya seru2, perbanyak lg dunx! hehehheee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: