Hermeneutika Evolusionistik

Hermeneutika, Konstruksi, dan Dekonstruksi

Hermeneutika secara etimologis berarti to interpret; suatu kegiatan aktif mengintepretasi makna di dalam teks. Dewa Hermes yang seringkali dikaitkan namanya dengan hermeneutika memiliki tugas untuk mentransformasi bahasa dewa ke dalam bahasa manusia agar dipahami. Hermeneutika pertama-tama memang dimaksudkan sebagai kegiatan menyusun makna yang mungkin dari suatu teks. Dalam menentukan kemungkinan makna mana yang diambil, metode yang ditawarkan hermeneutika bermacam-macam. Dari beberapa metode di dalam hermenutika, dapatlah disimpulkan bahwa ada hasrat manusia untuk menemukan makna objektif suatu teks, tidak sekedar menelan mentah-mentah literal teks. Salah satu alasan masuk akal mengapa manusia (dan hermeneutika) berhasrat akan makna objektif adalah kesadaran bahwa teks seringkali muncul sebagai sebuah konstruksi. Teks tidak diartikan semata-mata sebagai literal, melainkan sebagai realitas.

Heidegger melalui fenomenologi mengetengahkan problem lebenswelth, dunia keseharian yang dihayati manusia sebagai dunia yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh manusia melalui tindak intensionalitasnya. Dunia bukan dimengerti sebagai suatu fakta mandiri yang berada di luar subjektivitas manusia, melainkan manusia telah menemukan dirinya terbenam di dalam dunia itu. Dalam keterbenamannya itulah manusia berkecenderungan untuk melakukan proses hermeneutis terhadap realitas sehingga realitas tidak pernah tampil sebagai sesuatu yang orisinil. Di sinilah Heidegger memaksudkan konstruksi sebagai hasil dari proses hermeneutis manusia atas realitas. Oleh sebab itu, dalam filsafatnya, Heidegger berupaya menemukan original meaning dari dunia dengan cara mengangkat lagi bahasa primordial manusia, ia menemukannya sebagai bahasa Yunani kuno. Cara ini dimaksudkan Heidegger sebagai dekonstruksi. Dengan kata lain, konstruksi adalah karakter realitas yang merupakan hasil intepretasi manusia atas realitas, sebab sifat dasar manusia selalu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh dunianya. Hans George Gadamer, seorang murid Heidegger, menggunakan pendekatan fenomenologis-hermeneutis Heidegger ke dalam metode hermenutika miliknya. Gadamer menilai makna objektif hanya mungkin diangkat melalui peleburan cakrawala (fusion of horizons), yakni antara cakrawala teks dan cakrawala interpreter. Pada tradisi post-strukturalis, Derrida menolak adanya original meaning dari sebuah teks. menurutnya, kebenaran hanyalah dapat ditemukan di dalam jalinan intertekstualitas. No exit from language. Ia menggunakan istilah differance (penundaaan) sebagai upaya yang mungkin diambil manusia dalam berhadapan dengan makna. Di sini yang dimaksud Derrida adalah dekonstruksi untuk menemukan teks-teks marjinal.

Bagian dan Keseluruhan

Ketika berhadapan dengan realitas, kita tidak menemukan realitas sebagai sebuah keseluruhan (whole), melainkan berupa bagian-bagian (parts). Jika tiba-tiba anda tertidur dan ketika bangun sudah berada di sebuah tempat yang belum pernah anda kunjungi, maka anda akan berupaya mengenali makna keseluruhan tempat itu dengan cara melihat bagian-bagiannya. Anda melihat banyak pepohonan, rerumputan, mendengar suara-suara hewan, suara air gemericik, dan tidak terlihat satu benda buatan manusia di situ. Melalui pengenalan akan bagian-bagian itulah anda menyimpulkan makna keseluruhan tempat itu adalah hutan. Dari yang partikular kita berupaya menemukan makna universal. Persoalannya adalah, yang keseluruhan tidak serta-merta bisa ditemukan dari yang partikular. Bisa jadi anda tidak berada di sebuah hutan, melainkan sebuah kebun binatang yang luas. Di sini kita menghadapi persoalan metode ilmiah yang berupaya secara induktif mengumpulkan fakta demi hasil yang general. Dengan mengalami burung gagak warna hitam setiap hari, secara keseluruhan tidak berarti semua gagak berwarna hitam- setidaknya belum ada fakta yang menyalahi. Oleh sebab itulah, pendekatan lain yang diambil adalah melihat bagian-bagian melalui keseluruhan. Otak manusia sebenarnya terancang untuk mengenali keseluruhan, minimal mengenali pola atau motif. Sebagai contoh, anda berkunjung ke galeri seni milik Pak Tommy dan ditunjukkan sebuah lukisan kura-kura. Ketika melihat lukisan itu, anda tidak mengenalinya sebagai kumpulan warna dan garis yang dibentuk sedemikian rupa, tetapi anda langsung mengenalinya sebagai sebuah lukisan bergambar kura-kura, tanpa perlu memecahnya menjadi bagian-bagian. Ketika menemui pacar anda, anda tidak memaknainya sebagai kumpulan atom atau tulang yang dibungkus daging dan kulit, tetapi anda langsung mengenalinya sebagai seorang manusia yang anda cintai. Artinya, kesadaran manusia cenderung melihat keseluruhan melalui pola. Hermeneutika menyumbang kritik terhadap ilmu pengetahuan yang cenderung membuat pola besar yang akan diisi oleh fakta-fakta yang mendukung. Tindak kesadaran manusia ini juga tampak dalam penelitian sejarah. Beberapa fakta diintepretasikan dan dibuat jalinannya ke dalam sebuah pola besar sehingga melalui pola itulah fakta-fakta tadi bisa dikenali. Di sini peran intepretasi ilmuwan sangat dominan. Fakta tidak pernah berbicara sendiri.

Hermeneutika Evolusionistik

Filsafat adalah mother of sciences, demikian adagium klasik filsafat. Ketika pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan filsafat belum digeluti secara spesifik oleh disiplin ilmu manapun, filsafat cenderung menjawab pertanyaannya dengan sudut pandang yang sangat luas / general. Kebiasaan ini berubah ketika disiplin-disiplin ilmu mulai bekerja secara mandiri dengan metode ilmiah mereka sendiri. Sebagai contoh, pertanyaan mengenai Tuhan dulu dijawab melaui spekulasi rasionalitas, namun kini mulai dijawab oleh psikologi analisis, sosiologi, antropologi, biologi, neurosains, dan bahkan fisika. Jawaban yang diberikan disiplin ilmu memang bukan jawaban filosofis, dalam arti bukan spekulasi abstrak, tetapi tetap memiliki implikasi filosofis. Oleh sebab itu, arah filsafat mulai ditentukan oleh perkembangan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. Saatnya anak membimbing ibunya. Salah satu penemuan sains yang tidak bisa diabaikan oleh filsafat adalah teori evolusi. Nantinya akan dikenal suatu metode baru dalam hermeneutika, yakni apa yang disebut hermeneutika evolusioner.

Evolusi Darwinian menemukan perubahan kualitatif yang dialami semua spesies demi survival for the fittest. Ini adalah bentuk evolusi biologis / genetis yang dialami spesies untuk mampu bertahan hidup di tengah kompetisi dengan sesamanya. Ilmuwan yang mentransformasi pemikiran Darwinian ke dalam ranah budaya (dan di sinilah hermeneutika berkepentingan) adalah Richard Dawkins, biolog dari Oxford. Bila pada Darwinian evolusi berarti adalah replikasi gen untuk mampu bertahan hidup, maka Dawkins mengenalkan term baru meme sebagai satuan informasi kultural terkecil yang terus-menerus berupaya menggandakan dirinya. Pada dasarnya, kenapa budaya direplikasi oleh meme adalah untuk mempertahankan kelangsungan gen. Dawkins mengenalkan istilah selfish genes sebagai gen yang berupaya menggandakan diri agar kehidupannya terus berlangsung. Melalui sudut pandang genetis seperti ini, yang berkepentingan untuk bertahan hidup adalah gen-gen dan bukan manusia sebagai spesies. Manusia hanyalah sarana untuk kelangsungan hidup gen. meme serupa dengan gen, tetapi ia bermakna dalam ranah budaya. Manusia telah berevolusi secara kultural yang jauh melampaui evolusi genetisnya. Sebagai contoh, mengapa secara moral (dan ini berarti kultural) manusia cenderung mengasihi anak kecil adalah bentuk kultur yang akan membuat orang-orang dewasa merawat anak-anak mereka sehingga kelangsungan hidup gen mereka dapat terus bertahan. Meme mengasihi anak kecil terus direplikasi dan secara tidak sadar menjadi bagian dari kultur spesies manusia. Contoh lainnya adalah agama. Bagi sudut pandang evolusioner, agama adalah kultur yang diciptakan melalui replikasi meme yang berguna untuk menopang kehidupan anti-chaos sehingga gen-gen dapat bertahan hidup. Meskipun, kita dapat mengkritiknya melalui serangkaian fakta partikular mengenai pertikaian antar-agama.

Hermeneutika evolusioner adalah corak pikir hermeneutis yang hendak mengurai makna tradisi dan kultur melalui pendekatan evolusioner. Tradisi atau kultur, melalui pendekatan evolusioner, bertahan karena memiliki nilai aplikasinya bagi kelangsungan hidup manusia. Mengapa agama ada karena memang agama sebagai kultur memiliki nilai aplikasinya bagi manusia, setidaknya untuk memelihara perdamaian yang akan memperpanjang harapan hidup spesies. Dengan kata lain, hermeneutika evolusioner melihat tradisi dan kultur sebagai sebuah konstruksi berdasar nilai aplikatifnya bagi manusia. Persoalannya, kesadaran manusia sudah mencapai titik kualitatif untuk mampu mengurai konstruksi itu secara jernih, katakanlah untuk menemukan original meaning.

Salah satu pertanyaan mengenai hermeneutika evolusioner adalah sejauh apa model berpikir ini bisa mempunyai nilai aplikatifnya. Aplikasi hermeneutika ini dipertanyakan sebab model ini mengajukan klaim bahwa tingkah laku budaya (dan tradisi) manusia dapat diterangkan melalui skema perkembangan evolusi genetis dan kultural. Hermeneutika evolusioner sebetulnya berangkat dari nilai aplikatif teori evolusi yang melihat bagaimana budaya telah direproduksi sedemikian cepat, sebuah kecepatan yang sangat jauh meninggalkan evolusi genetis di belakangnya. Kontribusi gagasan evolusioner ini sebetulnya dapat digunakan untuk mempertanyakan konstruksi budaya yang telah mapan. Salah satu bentuk budaya yang mapan ini adalah agama. Teori evolusi memang menunjukkan bahwa bertahannya agama adalah karena sejauh ini bentuk ini mempunyai nilai gunanya bagi keberlangsungan gen dan meme. Salah satu contoh adalah ajaran yang menjunjung tinggi lembaga pernikahan (bahkan poligami), anjuran berbuat baik, zakat, dan sebagainya. Kesemuanya sebetulnya bertujuan agar chaos tidak tercipta dan merawat insting reproduksi sehingga setiap spesies manusia dapat bertahan hidup yang berarti gen dapat terus campin menggandakan diri.

Hermeneutika evolusioner berguna untuk membongkar konstruksi budaya yang awalnya berfungsi untuk keberlangsungan gen. akan tetapi, kemajuan kesadaran manusia sudah sampai pada titik kualitatifnya untuk mempertanyakan cara-cara intuitif kita dalam memelihara bentuk budaya (sebagaimana dilakukan Daniel Dennet). Hermeneutika evolusioner bukan gagasan untuk merawat budaya, melainkan mempertanyakan bentuk budaya dan sangat mungkin untuk melakukan rekonstruksi budaya dengan memperhitungkan posibilitas replikasi meme. Intinya sederhana, bila agama mampu menggandakan memenya sedemikian rupa, maka anti-agama dapat dikonstruksi dengan pola penggandaaan meme yang sama. []

About Herdito Sandi Pratama

Dosen Muda Filsafat di Dept. Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia; meminati filsafat ilmu pengetahuan, metodologi, epistemologi, filsafat ekonomi, dan filsafat politik.

Posted on January 3, 2009, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: