Menggugat Nalar, Menggugat Kepenuhan Manusia[1]

Pada sejarah kita biasa menghirup optimisme kemanusiaan. Berkaca pada sejarah memberi kita efek menenangkan bahwa manusia telah mencapai banyak kemajuan; jauh meninggalkan spesies lain yang masih menggantungkan tangannya di dahan pepohonan dan memenuhi kebutuhan protein dengan menghirup plankton. Manusia sebaliknya, sejauh keyakinan saintifik, telah memenuhi dirinya dengan adaptasi tingkat tinggi yang menyebabkannya tidak lagi bertumpu pada kecekatan tangan dan supremasi organ biologisnya. Dalam perspektif evolusionisme, nalar adalah tempat bergantung nasib manusia untuk meninggalkan kehidupan purbanya. Masalah terbesar yang menghantui kenyataan ini adalah bayang-bayang ketidakberdayaan nalar untuk menanggung beban peradaban.[2]

Nalar sebagai produk evolusi

Soal kepastian prediktif merupakan pertanyaan epistemologis. Klaim apapun yang diajukan, khususnya oleh ilmu pengetahuan, menuntut penyelesaian kriteria epistemologisnya. Perdebatan mengenai kreasionisme dan evolusionisme, misalnya, bisa mempunyai status ilmiah yang selevel. Namun, keduanya harus diurai untuk dilihat kriteria epistemik yang dianutnya. Kenyataannya, sekalipun sama-sama mendaku empiris untuk mendapat status ilmiah, tetap terbuka kemungkinan untuk terus bertikai. Ada konvergensi yang kadang terselesaikan secara prematur dengan seberapa mungkin suatu paradigma dalam ilmu pengetahuan bisa berlaku. Di sinilah apa yang dimaksudkan Kuhn terjadi. Perdebatan antara dua teori dalam lapangan yang sama tidak dijustifikasi berdasarkan validitas konklusifnya, melainkan bagaimana teori itu bisa didaku absah dalam suatu paradigma.

Dalam perspektif evolusi, nalar merupakan produk evolusi khususnya pada bagian otak manusia sepanjang lebih kurang 200.000 tahun. Artinya supremasi otak manusia pada kondisi seperti saat ini bukanlah sebuah komoditas siap pakai yang ditanam dalam tubuh manusia. Kenyataan yang menjadi fondasi bagi pikiran Darwinian adalah fakta mengenai persaingan akibat kelangkaan, sehingga adaptasi sangat dibutuhkan untuk bertahan. Dalam persaingan itu, evolusi terjadi melalui serangkaian mutasi dan variasi, meneguhkan diri pada gagasan the fittest. Otak manusia modern adalah bentuk teraktual yang sejauh ini diketahui sebagai proses yang tengah berjalan dari bentuk hominid purba. Namun uniknya, struktur otak itu diyakini tidak berubah dari yang dimiliki homo sapiens pada 200.000 tahun lalu. Sementara itu studi-studi sejarah menunjukkan perubahan drastis dalam kurun waktu kurang dari 5000 tahun pada ranah budaya. Artinya, perubahan semenjak homo sapiens berupa perubahan kualitatif. Analogi sederhananya, bukan kapalnya yang semakin canggih, tetapi kemampuan mendayungnya yang membaik sehingga lebih efisien. Temuan-temuan dalam studi evolusi memberikan gambaran mengapa pada manusia evolusi dikatakan sebagai progress (kemajuan) sementara pada spesies lain dianggap sebagai adjustment (penyesuaian) belaka.

Titik terpenting yang menjadi dasar bagi para ilmuwan untuk melihat progress itu adalah peralihan fungsi biologis manusia ke wilayah lainnya: budaya, sosial, ekonomi. Mereka tentu saja mengakui adanya keterhubungan biologis manusia dengan spesies lainnya: kemiripan fisiologis, fisiokomiawi, berbagi makanan, dan rantai makanan dalam ekosistem. Begitu juga bagaimana spesies lain memiliki kemiripan dengan fungsi “tahap lanjut” manusia. dalam On Human Nature, Wilson menunjukkan bagaimana perilaku berbagai spesies primata memiliki kemiripan dengan fungsi sosial patriakal pada manusia.[3] Dengan contoh mengenai koloni semut, Wilson memberikan ilustrasi bagaimana struktur sosial yang diklaim unik hanya milik manusia, pun dimiliki semut. Dalam studi evolusi, manusia memang berupaya dikembalikan ke dalam status biologisnya. Konklusinya bisa ditebak, persoalan budaya bisa dijelaskan melalui skema biologi, bahkan mikrobiologi. Lalu, pertanyaan mendasarnya adalah: bagaimana konsep diri (self) bisa muncul dalam satu spesies sementara spesies lain tidak. Kalau dikatakan ada perbedaan kualitatif antara produk evolusi antara manusia dan spesies lainnya, sebesar apa peluang spesies lainnya mengalami tingkat gradasi yang setara manusia?

Dualisme Descartes

Kepenuhan diri manusia, yakni pada usainya konsep self (diri), telah merangkak di sepanjang sejarah filsafat semenjak pra-Socrates. Descartes adalah orang yang pertama kali berdiri dengan tegas menyerukan diktumnya “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada). Ada ambisi dalam pikiran Descartes yang berupaya menerapkan prinsip-prinsip geometri dan matematika ke dalam keseluruhan pengetahuan manusia. Geometri dan matematika diawali dengan suatu aksioma yang pasti. Upaya mengejar kepastian itu uniknya dilakukan dengan memberikan sejumlah penyangkalan atas kepastian.[4] Seleksi terakhir dari keseluruhan penyangkalan itu adalah ketaktersangkalannya penyangkalan; kepastian bahwa ada yang menyangkal; aku. Dengan demikianlah Descartes beranjak dari klaim epistemologi ke ontologi. Keseluruhan ontologisasi aku bisa sama sekali berakhir terlepas dari segala persepsi yang awalnya mengantarkan aku untuk berpikir. Kecurigaan pada jalan ini ditangkap Antonio R. Damasio dengan mengatakan “it suggests that thinking, and awareness of thinking, are the real substrates of being.”[5]

Descartes bukan tidak peduli terhadap pandangan biologis manusia. Ada kecurigaan bahwa model biologi yang berkembang saat itu adalah Aristotelian. Aristoteles telah memberikan sumbangan berarti pada biologi dengan membuat klasifikasi spesies secara sederhana. Namun, sama seperti Aristeteles, Descartes masih terjebak pada pandangan mekanistik. Pertanyaannya sederhana, bagaimana tubuh biologis ini bisa bergerak dan merespon dunia. Sementara Aristoteles berspekulasi mengenai forma dan matter, Descartes lebih memilih untuk melepaskan substansi “penggerak” tubuh itu dari yang digerakkannya. Disembodied mind, sebagaimana dinamai oleh Damasio, telah membawa Descartes kepada persoalan dualisme antara body dan mind.[6] Bila mind (kesadaran) dapat dipisahkan dari body (tubuh), maka bisa saja kita mengujinya tanpa neurobiologi. Damasio bahkan mengolok-olok sebagian dualis dengan mengatakan, “interestingly and paradoxically, many cognitive scientists who believe they can investigate the mind without recourse to neurobiology would not consider themselves dualist.”[7]

Dualisme Cartesian sebenarnya unik sebab tidak semata-mata memisahkan mind dan body. Obsesinya untuk ketat pada kepastian, membuatnya menumpukan gagasan dualismenya pada konsep abstrak tertentu- sebagian besar menilainya sebagai Tuhan. Res cogitan (mind) tidak berkeluasan, tidak mewaktu, dan bukan benda fisikal. Maka itu ia tidak bisa begitu saja terletak di dalam Res extensa (body) yang berkeluasan, padat, dan wewaktu. Penjamin interaksi antar keduanya ditunjuk pada gagasan lebih abstrak (Tuhan).

Serpihan besi yang mengubah diri

Dualism Cartesian sebenarnya adalah model bagi penjelasan kesadaran dengan prinsip kerja komputer. Bila mind adalah software, maka body adalah hardware.[8] Meskipun keduanya dituntut kompatibilitas yang memadai agar bisa bekerja, namun sebenarnya keduanya adalah perangkat independen satu sama lain. Artinya software A bisa bekerja di hardware X atau Z. Kerusakan pada hardware X tidak menyebabkan software A menjadi rusak. Justru, software A ini bisa diinstalasi ulang pada hardware Z.

Damasio memastikan bahwa prinsip gagasan seperti ini keliru dengan melakukan studi terhadap Phineas P. Gage.[9] Gage adalah seorang mandor sebuah perusahaan pembangunan rel kereta api di Vermont. Pada 1848 di usia ke-25 Gage mengalami kecelakaan. Sebuah ledakan membuncahkan serpihan besi merusak tengkorak depan kepalanya. Beberapa waktu kemudian Gage telah pulih dari cideranya, namun perubahan besar terjadi pada Gage. Dr. Harlow yang menanganinya dalam pengobatan memberikan catatan bahwa Gage telah berubah dari satu pria menjadi pria lain. Sebelumnya ia seoarng yang sangat cakap, efisien, sementara setelah kecelakaan menjadi orang yang sangat pemurka, teledor. Singkatnya, Gage telah kehilangan karakter dan keterampilan sosialnya, sehingga itu mengubah sama sekali konsep dirinya. Pada 1861 Gage meninggal, tengkoraknya diawetkan untuk kepentingan studi. Damasio menandai daerah bagian bawah cuping otak depan (ventromedial frontal lobe) yang mengalami cidera sebagai pusat dari keterampilan sosial.

Melalui uji kasus Phineas Gage, tampaknya Damasio hendak membongkar kesalahan Descartes dalam memahami dualitas dan konsep diri. Neurologi sebagai sebuah disiplin banyak mengungkap temuan-temuan baru mengenai hal-hal semacam ini. Kasus-kasus aphasia, yakni kekacauan selektif pada bahasa, dan amnesia, kekacauan pada ingatan, diuji dengan merekonstruksi struktur kerja saraf dan otak. Damasio ingin mengatakan bahwa ada keterkaitan erat antara kesadaran, perilaku, dan otak.

Menggugat nalar

Meskipun lenyap akibat cidera, dari manakah datangnya keterampilan sosial Gage dan seluruh manusia? Perspektif evolusi menunjuk pada tanggung jawab nalar (reason). Ayn Rand dengan sangat baik menunjukkan bagaimana nilai bisa didapat manusia melalui berbagai tahap yang tidak bisa dilakukan organisme lain. Diawali dengan sensasi, manusia mempertahankan sensasi-sensasi itu sehingga menjadi persepsi. Persep-persep itu kemudian diintegrasikan dengan kesadaran menjadi konsep. Kemampuan konseptualisasi ini tidak dimiliki oleh spesies lain. Rand jelas menunjuk pada kemampuan kesadaran manusia sebagai integrator.[10] Di wilayah konsep inilah menurut Rand kita bertikai untuk merumuskan etika.

Nalar sendiri sebetulnya adalah piranti efisiensi. Tesis yang diajukan Donald B. Calne dalam Within Reason mengatakan bahwa nalar sebenarnya berurusan dengan cara (how) dan sama sekali tidak menjelaskan mengapa (why). Gagasan Calne diambil dari Herbert A Simon yang mengatakan, “Reason is wholly instrumental. It can not tell us where to go; at best it can tell us how to get there. It is a gun for hire that can be employed in the service of any goals we have, good or bad.“[11] Dalam berbagai studi terhadap perilaku manusia, neurolog dengan bantuan perspektif evolusi menandai beberapa kemajuan manusia dalam cara-cara menjadi efisien dalam seleksi alam.

Lantas, apakah dengan ketiadaan penjelasan mengenai motif dari dalam nalar sendiri, kita bisa tetap mendaku bahwa manusia telah mencapai progress? Manusia sendiri, sejauh yang kita tahu, telah mengalami momen-momen revolusioner dalam cara pandang kita atas diri kita. Ketika mitos dimatikan, kita berharap banyak pada nalar. Renaisaans semenjak Descartes menandai pertaubatan nalar yang sebelumnya berselingkuh dengan tradisi biblikal. Apakah semua ini merupakan evolusi dalam pengertian mendekati titik terjauh suatu kemajuan?

Melalui Dawkins, kita dikabarkan mengenai tujuan biologis sebagai core dari semua upaya peradaban. Secara absurd, meminjam istilah yang dipakai Albert Camus, kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita cari. Nihilitas nalar semacam inilah yang kemudian diajukan oleh studi-studi kontemporer atas manusia. Melampaui seluruh upaya konseptual kita, nalar pertama-tama memang adalah dimaksudkan sebagai piranti praktis untuk efisiensi semata.

Kesimpulan yang cukup menyedihkan baik bagi mereka yang mengagungkan nalar sebagai penjamin peradaban. Secara epistemik, tipis beda antara rational dan reasonable. Dengan satu gagasan tentang perubahan (change), nalar menyusup ke dalam pidato Obama mengenai masa depan Amerika, sekaligus menitipkan amunisi baru bagi Osama. Seperti yang sudah dikatakan, nalar tidak bertuan. Nalar tidak punya daya cukup untuk kita bebani.

_______________________________

Bacaan:

Herbert A. Simon, Reason in Human Affairs ( Calif, Stanford University Press, 1983)

Ayn Rand,The Virtue of Selfishness (A Signet Book, New York, 1964)

Antonio R. Damasio, Descartes’ Error (Quill: New York, 2004),

John R. Searle, Mind, Language, and Society (Basic Books, New York, 1998)

Edward O. Wilson, On Human Nature, (Harvard University Press, Massachusetts, 1978)


[1] Disampaikan dalam Diskusi ke-4 Klub Darwinian UI, 1 September 2008

[2]Buku yang bagus secara naratif untuk melihat sejarah kemajuan manusia adalah Mankind And Mother Earth, karya Arnold Toynbee.

[3] Edward O. Wilson, On Human Nature, (Harvard University Press, Massachusetts, 1978) hlm. 139

[4]Lex Newman, Stanford Encyclopedia 2005, dalam Descartes’ Epistemology.

[5] Antonio R. Damasio, Descartes’ Error (Quill: New York, 2004), hlm. 248

[6] John Searle menggunakan istilah substance dualism. “if it is mental,it can’t, qua mental, be physical; if it is physical, it can’t, qua physical, be mental.” Lihat John R. Searle, Mind, Language, and Society (Basic Books, New York, 1998) hlm.47

[7] Ibid. hlm 250

[8] Meskipun harus dirinci lagi, secara spesifik yang dimaksud adalah otak.

[9] Antonio R. Damasio, Descartes’ Error (Quill: New York, 2004), hlm. 4

[10] Ayn Rand,The Virtue of Selfishness (A Signet Book, New York, 1964) hlm.13

[11] Herbert A Simon, Reason in Human Affairs ( Calif, Stanford University Press, 1983)

About Herdito Sandi Pratama

Dosen Muda Filsafat di Dept. Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia; meminati filsafat ilmu pengetahuan, metodologi, epistemologi, filsafat ekonomi, dan filsafat politik.

Posted on January 3, 2009, in Filsafat and tagged . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. tulisan yang keren mas,
    tapi kalau menurut saya kesalahan descartes bukan terletak pada ketidaktahuannya pada status nalar dalam perspektif biologis. cogito yang dimaksud descartes hanya dimaksudkan sebagai alat untuk membuktikan suatu ‘ada’, meskipun pada perkembangannya dia memformalkan semua jenis logika yang dia ketahui sebagai ‘nalar yang sah’.
    saya lebih sepakat pada kritik heidegger yang bilang bahwa kesalahan descartes adalah dia telah mengkerangkeng ‘ada’ dalam kategori cogito. bukankah ‘cogito’ itu sendiri adalah bagian dari ‘seinde’ bukan ‘sein’ itu sendiri?
    ada juga pernyataan menarik dari lacan yang bilang, “aku berpikir di tempat aku tidak ada, maka aku ada ditempat aku tidak berpikir”.

    quite interesting !!!

  2. thanks komentarnya. Descartes sendiri masih deal dengan unsolved problem khas filsafat soal ‘ada’ (self) itu. saya tekankan kealpaan Descartes pada perspektif biologis untuk menunjukkan bahwa saat itu, epistemologi masih berurusan dengan keyakinan bahwa penyelesaian problem holistik (menjelaskan keseluruhan itu) berarti menutup ruang pembuktian induktif/scientific. sebenernya saya mau jelasin bahwa filsafat sekarang (epistemologi) gak bisa lagi berdiri di atas kriteria ilmiah. justru epistemologi berada satu level dengan ilmu pengetahuan. (kita bisa cek kecenderungan baru ini pada Darwin, WV Quine dan hampir semua studi mind dan consciousness belakangan ini).

    sama halnya, kritik fenomenologi Heideggerrian terhadap cogito Descartes pun masih berada pada level filsafat holistik itu. justru, saya ingin deal dengan studi philosophy of mind kontemporer dengan semangat darwin dan Quine, seperti bisa kita lihat pada konklusi-konklusi studi ini pada pikiran Pat Churchland, Damasio (meski dia gak bisa selesaikan problem Descartes tentang ‘aku’), atau David Chalmers. Nah, Chalmers misalnya, tetap mengangkat problem Descartes tapi dengan semangat baru filsafat (memperhitungkan setiap temuan ilmiah), sesuatu yang gak banyak dilakuin filsuf pra-Quine…

    kita bisa diskusi berkelanjutan kok… hehe jd rindu fenomenologi nih

  3. rindu??..hmmm..uda liat buku “phenomenology and philosophy of mind” blom di? usaha buat liat relevansi dr fenomenologi bagi diskursus mutakhir ttg mind sih (meskipun gw skeptis apa ada relevansi yg penting2 amat selain dr relevansi, yg amat terbatas sebenernya, yg uda diterangin Dennett n Chalmers hehehe)

  4. ohya, uda perna liat Natural Born Cyborgs-nya Andy Clark. Dia ngasih perspektif baru yg keren tuh terhadap dualisme mind-body…
    “…the old puzzle, the mind-body problem, really involves a hidden third party. It is the mind-body-scaffolding problem. It is the problem of understanding how human thought and reason is born out of looping interactions between material brains, material bodies, and complex cultural and technological environments…What blinds us to our own increasingly cyborg nature is an ancient western prejudice—the tendency to think of the mind as so deeply special as to be distinct from the rest of the natural order. In these more materialist times, this prejudice does not always take the form of belief in soul or spirit. It emerges instead as the belief that there is something absolutely special about the cognitive machinery that happens to be housed within the primitive bioinsulation (nature’s own duct-tape!) of skin and skull.” (H.11&26)

    bakal relevan abis ama skripsi lo tuh kayaknya. btw,lo jg bisa skalian ngobatin “rindu fenomenologi” elo, abis dia banyak jg pake insight dr fenomenologi hehehe

  5. belom tuh, minta dong hehe..
    iya gw cm dpt heterofenomenologi aja dar dennett. gw gak terlalu penasaran juga si soal fenomenologi, cuma karena nemu terus di studi mind, so sekalian aja.. udah S2 masih berminat jd karyawan Ri? hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: