Sekilas tentang Konflik di Gaza

Gila!! Kekerasan memang patut dibenci. Belakangan ini, konflik di Gaza memuncak setelah lebih dari 4oo orang tewas semenjak serangan Israel di kawasan itu hanya dalam beberapa hari. Saya cenderung untuk menunda apa yang diberitakan di media, sebab, barangkali ada perspektif yang lebih komprehensif untuk mencermati fenomena Timur-Tengah. Potongan jurnalistik mengenai kawasan itu membombardir ruang wacana kita, namun, sulit untuk merangkainya jadi sebuah kesatuan pemahaman.

Di masjid dekat rumah saya, khotbah salat Jumat dipenuhi wacana kebencian pada Yahudi. Sang pembicara memulai khotbahnya dengan memberi eksplanasi kepatutan Yahudi untuk dibenci, dengan meminjam beberapa keterangan wahyu. lantas, generalisasi “evil” Yahudi itu diperkeras dengan mengajak siapapun untuk membenci (memerangi) Yahudi. Kasus Gaza adalah pelatuk kebencian itu.

Begini, saya punya hipotesa, bahwa kalaupun situasi antara israel-Palestina di balik, di mana Palestina yang memiliki superioritas dukungan, dana, militer, dan dominasi, sangat mungkin (kalau tidak pasti), memerangi Israel.

Siapapun dalam konflik itu punya potensi kekerasan. Aktualnya hanya soal derajat kemungkinannya saja. kali ini, Israel yang punya kemungkinan lebih besar karena memiliki militer yang lebih baik.

Bisa kita cermati, sebenarnya kedua pihak punya kemungkinan sama besar untuk mempraktikkan kekerasan. Kenapa? Karena yang jadi masalah adalah perkara keyakinan yang final, yang tidak menghendaki dialog. Tanah yang dijanjikan, Bukit Sinai, dsb. diperoleh dari keterangan wahyu yang tidak bisa didialogkan.

Selama problem itu dimaksudkan sebagai problem final, maka kekerasan sudah bermukim di sana. Baik Israel yang menghanguskan Gaza, Hamas yang mengirim rudal, Khatib di masjid, mahasiswa yang memboikot McDonald, semua punya perkara “evil” yang sama. Mereka tengah mempertontonkan kekerasan.

About Herdito Sandi Pratama

Dosen Muda Filsafat di Dept. Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia; meminati filsafat ilmu pengetahuan, metodologi, epistemologi, filsafat ekonomi, dan filsafat politik.

Posted on January 3, 2009, in My Me. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. mnurut gw masalahnya bkn cm krn perkara keyakinan yang final, tp jg krn masih ada difference criteria kayak benar-salah,baik-buruk,dll yg ngakibatin adanya distinction antara 1 sm lainnya.
    yaa itu sih cm mnurut gw aja n blom trbukti secara ilmiah.

  2. Wolfgang Xemandros

    kunjungi juga blog saya,..hehh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: