Keadilan yang Bekerja

Sepanjang filsafat mengupayakan sophos, gagasan keadilan mulai diperbincangkan secara serius. Bila kita mencoba melacak, setidaknya pada Phadeo Plato, dualisme Platonian sudah membedakan antara ephermal dan eternal.[1] Gagasan kesempurnaan, kebenaran, kebaikan, diandaikan sebagai sesuatu yang eternal, di mana mereka mengambil bentuk limitasi dalam yang ephermal, sebagai salinan yang eternal. Setiap yang ideal disejajarkan dalam level eternal, oleh sebab itu, keadilan riil adalah keadilan eternal. Sekalipun eternal, keadilan ini tidak bisa terjelaskan tanpa dikenali melalui yang ephermal. Di sini kita menemui konsep anamnesis Platonian, sebuah ambiguitas. Yakni, yang eternal adalah yang riil, namun tanpa yang memetic, kita tidak bisa mengingat yang eternal. Karenanya, sudah sejak Plato, gagasan limitasi bisa diungkap. Pada Plato, limitasi terhadap dunia eternal. Oleh Frege, yang eternal ini (yang disebut juga forma) disebut sebagai konsep.

Pada paper ini, saya akan berargumen mengenai limitasi yang diperlukan terhadap konsep keadilan sebagai syarat bekerjanya keadilan.

Problem Keadilan

Keadilan yuridis dipelopori tradisi filsafat era modern. Pada John Locke, J.J. Rousseau, dan Thomas Hobbes, kita mencermati kemunculan kontrak sosial. Peluang munculnya kontrak sosial pada ketiga pemikir ini sebetulnya berbasis pada gagasan antropologi yang berbeda. Pada Rousseau, prinsip antropologi positif yang mengatakan nature manusia baik, menjadi dasar bagi kemunculan kontrak sosial yang tujuannya merawat nature itu dalam wilayah sosial. Kontras, prinsip yang dipegang oleh Hobbes adalah antropologi negatif, bahwa untuk menyudahi chaos, kontrak perlu dibuat untuk merasionalkan kebinatangan manusia. Hobbes percaya kontrak sosial akan menaikkan status ontologis manusia; dari binatang ke human being. Kondisi homo homini lupus mewujud dalam perang sesama, di mana Hobbes berargumen bahwa perlu kekuatan lain untuk mentransformasi kondisi itu ke perdamaian.

“Out Of Civil States, There Is Always War Of Every One Against Every One Hereby it is manifest, that during the time men live without a common Power to keep them all in awe, they are in that condition which is called War; and such a war, as is of every man, against every man. For WAR, consist not in Battle only, or the act of fighting; but in a tract of time, wherein the Will to contend by Battle is sufficiently known: and therefore the notion of Time, is to be considered in the nature of War; as it is in the nature of Weather. For as the nature of Foul weather, lie not in a shower or two of rain; but in an inclination thereto of many days together: So the nature of War, consisted not in actual fighting; but in the known disposition thereto, during all the time there is no assurance to the contrary. All other time is PEACE.”[2]

Meskipun berbeda pada basis ontologisnya mengenai manusia, upaya mengejar keadilan sebenarnya berdiri di atas lebenswelth yang dihidupi bersama-sama. Keadilan hanya menjadi problem dalam situasi manusia yang tidak terisolir dari sesamanya. Oleh sebab itu, basis keadilan adalah sosial. Keadilan bukan upaya final di dalam kontemplasi filosofis tanpa diderivasi secara sosial.[3] Gagasan apapun mengenai keadilan dalam inferensi logis semata –apapun kesimpulannya-, tanpa disertai limitasi bukanlah problem keadilan, melainkan problem logis. Keadilan adalah soal peluang aktual, bukan peluang logis belaka.

Saya bersepakat dengan John Rawls mengenai konsep keadilan. Rawls berargumen bahwa secara universal kita memiliki intensi terhadap konsep keadilan. Problem keadilan bagi Rawls adalah soal konsepsi; bagaimana menerjemahkan keadilan universal itu.

Limitasi terhadap Konsep Keadilan

Fisika Newton bertahan sekitar tiga abad. Konsep fisika pertama dari Newton adalah gerak.[4] Ironisnya, konsep gerak ini menjadi absurd pada level makrokosmis sebab ketiadaan limitasi. Sederhananya, gerak dimengerti sebagai perpindahan dari satu vektor ke vektor lainnya. Pada level mikrokosmis (pengalaman sehari-hari), konsep gerak ini mudah dijelaskan. Artinya, perpindahan antar-vektor bisa dimengerti sebab kita selalu punya acuan. Misalkan, dalam sebuah ruangan, saya berpindah dari sudut x ke sudut y. dapat dimengerti bahwa saya bergerak karena ada acuan ruangan (tembok-tembok). Artinya, kita bisa mengidentifikasi mana sudut x dan mana sudut y. ruangan itu adalah limitasi untuk dapat menjelaskan konsep gerak secara masuk akal. Problemnya ada pada level makrokosmis (semesta). Newton percaya bahwa alam semesta (ruang) tidak berhingga keluasannya. Gagasan ini sebenarnya datang dari geometri Euclidean. Dengan begitu, konsep gerak pada level makrokosmis tidak bisa terjelaskan sebab ketiadaan acuan; ketiadaan limitasi. Artinya, kita tidak bisa menentukan mana vektor x dan mana vektor y.

Tanpa limitasi ruang (yang tak berhingga itu), problem gerak menjadi problem logis (nada sinis mengatakan pseudo-logic). Hanya dengan limitasi, problem gerak menjadi problem fisika, sebab fisikalitasnya mampu diukur. Pada masanya, Newton dan Descartes berkorespondensi dalam perdebatan soal infinitas. Bagi Newton, gagasan keberhinggaan Cartesian tampak tidak masuk akal ketika ia menerapkan deret tak berhingga.[5] Dalam matematika, Newton disibukkan dengan ketegangan antara infinitas dan infinitesimal. Keduanya adalah konsep ketidakberhinggaan; yang satu tak berhingga besarnya, sementara lainnya tak berhingga kecilnya. Galileo sudah menegaskan problem ini dengan mengatakan bahwa kita berada di antara infinitas dan indivisible (infinitesimal).[6]

Barulah pada Einstein, limitasi diberlakukan pada geometri Euclidean, dengan menyimpulkan alam semesta berhingga namun tak-terbatas. Einstein menyadari dilema Newtonian ini dan menyelesaikannya dengan menerapkan saran astronom bernama Seeliger. Diandaikan pada jarak sangat jauh, gaya tarik antara dua massa akan berkurang lebih cepat dibanding hukum kebalikan kuadrat. Dengan limitasi seperti ini, kerapatan rata-rata materi bisa tetap di mana-mana (hingga tak-berhingga jauhnya) tanpa menyebabkan medan gravitasi tak-berhingga besarnya.[7] Limitasi Seeliger ini meniadakan pusat dalam semesta sekaligus memodifikasi fisika Newton. Einstein sendiri memberikan kurva elips pada geometri Euclid (bahkan Descartes) untuk sampai pada kesimpulan bahwa semesta berhingga.

Saya kira hal yang sama berlaku pada konsep keadilan. Konsep keadilan harus diberi limitasi agar mampu bekerja. Tanpa limitasi, konsep keadilan hanya menjadi problem logis, bukan problem aktual. Bila ini terjadi, maka kekerasan performatif oleh inferensi logis terhadap konsep keadilan itu sendiri terjadi. Problem keadilan yang datang dari situasi sosial yang aktual boleh jadi diperbincangkan secara logis, namun harus mampu memberi peluang-peluang aktual. Instalasi sosial (hukum, misalnya) memang tidak bisa mereferensikan secara rigid konsep keadilan, namun hanya dengan cara limitasi (ditegaskan) konsep keadilan itu bisa dijelaskan (dan diperdebatkan).

Cateris Paribus bagi Konsep Keadilan

Konsekuensi dari argumen saya (dan juga Rawls) adalah: mengakui bahwa terlalu banyak peluang mendefinisikan konsep keadilan itu berdasarkan konsepsi berbeda-beda. Artinya, konsep keadilan yang diandaikan universal itu harus menemui kemungkinan terjauhnya: partikularitas keadilan. Oleh sebab itu, argumen ini harus berhadapan dengan gagasan-gagasan relativitas, ketidakpastian, bahkan nihilistik mengenai keadilan.

Limitasi adalah prinsip konkresi yang membuat sesuatu konsep mampu dijelaskan dalam sebuah skema normatif. Terhadap konsep keadilan yang eternal itu, argumennya adalah lakukan limitasi untuk membuatnya bekerja secara ephermal. Limitasi berarti juga mencari satu dasar yang final untuk menjelaskan ketidakfinalan konsepsi keadilan. Dasar itu adalah cateris paribus (sesuatu yang diandaikan tetap). Pada fisika, perbedaan kualitatif relativitas Einstein dengan ruang absolut Newton tidak berarti Einstein mengabaikan suatu cateris paribus. Bahkan dalam ruang dan waktu yang relatif itu, kecepatan cahaya diandaikan tetap; sebagai cateris paribus untuk memahami seluruh inersia matematis terhadap konsep gerak. Pada konsep keadilan, cateris paribus itu adalah rasionalitas. Rasionalitas ini bukan dimengerti sebagai end-pursued, melainkan means. Penolakan berada di wilayah endpursued mensyaratkan kemungkinan salah dalam rasionalitas. Oleh sebab itu, ia menghendaki komunikasi efektif.[8] Saya kira, Nozick sekalipun menyadari hal ini dengan menempatkan utopia sebagai framework bagi gagasannya mengenai keadilan.[9] Meskipun libertarianisme Nozick sulit dimungkinkan secara aktual, namun ia cukup ketat dalam penalaran. Nozick, saya kira, sadar pada kemungkinan gagasannya membeku di dalam inferensi logis semata dengan menyebut soal utopia. Atau, dalam kata-katanya “the framework captures the virtues and advantages of each position.[10]

Limitasi pada konsep keadilan membuka peluang aktual menerjemahkan konsep itu ke dalam ruang publik. Itulah yang dilakukan oleh Amartya Sen, Rawls, dan Habermas. Yakni, soal bagaimana mencapai end-pursued keadilan itu. Satu-satunya cateris paribus untuk membuka peluang membuktikan salah dan membuktikan benar ada pada rasionalitas. Oleh sebab itu, saya tidak memaksudkan limitasi itu sebagaimana pada gagasan relativistik Walter dan gagasan multikulturalisme yang bersembunyi di balik local wisdom, yang tidak bisa diukur melalui prinsip-prinsip universal. Cara membaca Sen, Habermas, maupun Rawls adalah cara membaca means mencapai end-pursued keadilan. Thomas Nagel memberi masukan yang menarik mengenai rasionalitas ini; subjektif ataukah objektif. Problem ini dikenal juga dengan pertanyaan apakah manusia merupakan agen rasionalitas yang netral ataukah ia agen rasionalitas relatif?[11] Pertanyaan ini juga yang sama diajukan kepada penjelasan decision theory, yang berangkat dari tindakan rasional.[12]

Kesimpulan: Keadilan sebagai Kepastian Limitasi

Kesimpulan saya adalah soal keadilan yang bekerja. Yakni, keadilan sebagai kepastian limitasi. Hanya dengan cara itu, keadilan membuka kemungkinan aktual untuk diperbincangkan, tidak jatuh pada realitivisme seperti Walter dan pesimisme Derridean. Keadilan yang bekerja memang harus diakui terlimitasi, sebab hanya itu satu-satunya cara ia mampu dijelaskan dan diperdebatkan dengan satu acuan yakni rasionalitas. Perlu juga ditegaskan bahwa keadilan bukan virtue yang eternal sebagaimana Plato ungkap, melainkan ephermal. Kita tidak bicara soal keadilan ideal, sebuah nomos yang setiap proposisi deskriptif dapat diderivasi darinya. Keadilan bukan semata soal inferensi logis. Keadilan yang mampu bekerja membuka peluang-peluang actual dimungkinkan dengan memberinya limitasi; dalam pengertian tertentu kita dapati dalam serangkaian ‘prosedur’ mencapai keadilan yang diungkap oleh teori-teori keadilan seperti oleh Habermas, Rawls, dan Sen. Meskipun bukan point utama dalam keseluruhan argumentasi ini, liberalisme dapat diandalkan sebagai kerangka keadilan ephermal itu. Sebab, konsep liberalisme mengenai freedom sudah mengandung limitasi aktualnya sendiri: kebebasan orang lain.

Keadilan yang bekerja bukan nomad, yang terisolir dari yang lainnya. Oleh karena itu, perdebatan kita selanjutnya bukan pada definisi keadilan dalam inferensi logis, melainkan gagasan yang berproses dalam rasionalitas untuk membuka peluang-peluang aktual.

Daftar Bacaan

Davidson, Donald. 2001. Essays on Actions and Events (New York: Oxford University Press)

Einstein, Albert. 2006. Relativitas: Teori Khusus dan Umum (terj. Relativity: The Special and General Theory) (Jakarta: KPG)

Gleick, James. 2006. Misteri Apel Newton (terj. Isaac Newton) (Jakarta: Mizan)

Gonick, Larry & Art Huffman. 2001. Kartun Fisika (terj. The Cartoon Guide to Physics) (Jakarta: KPG)

Hausman, Daniel M. (ed.). 2008. The Philosophy of Economics (New York: Cambridge University Press)

Nozick, Robert. 1999. Anarchy, State, and Utopia (Oxford: Blackwell Publishing)

Ridge, Michael. 2005. Agent-Neutral vs. Agent-Relative Reasons (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

Robinson, Howard. 2003. Dualism (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

Thomas Hobbes. 1971. Leviathan (Manybooks.net)

Toulmin, Stephen. 2003. The Uses of Argument (New York: Cambridge University Press)


[1] Lihat Howard Robinson. 2003. Dualism (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

[2] Thomas Hobbes. Leviathan (Manybooks) hlm. 58

[3] Dalam menggunakan kata sosial, yang saya maksud adalah fakta perjumpaan setidaknya antara dua individu. Bukan pengertian khusus mengenai sosial sebagaimana pada studi-studi budaya dan sosiologi.

[4] Larry Gonick & Art Huffman. 2001. Kartun Fisika (terj. The Cartoon Guide to Physics)) (Jakarta: KPG) hlm 3-17

[5] Dalam ketegangan antara infinitas (tak-berhingga besarnya) dan infinitesimal (tak-berhingga kecilnya), limitasi dilakukan dengan menjadikan nol sebagai acuan. Meskipun penerapannya secara kualitatif pada fisika dan geometri menghadirkan kompleksitas pemahaman, namun secara kuantitatif bisa dihitung seberapa besar perbedaan antara bilangan infinitas dan infinitesimal itu terhadap nol. Dengan begitu kita tidak lagi berdebat soal apakah bila ada garis tak-berhingga, maka setengahnya adalah berhingga?

[6] Lihat Gleick, James. 2006. Misteri Apel Newton (terj. Isaac Newton) (Jakarta: Mizan) hlm. 64-68

[7] Albert Einstein. 2006. Relativitas: Teori Khusus dan Umum (terj. Relativity: The Special and General Theory) (Jakarta: KPG) hlm.128

[8] Di sini nuansa diskursus rasional Habermas saya pertahankan

[9] Robert Nozick. 1999. Anarchy, State, and Utopia (Oxford: Blackwell Publishing) hlm.333

[10] Ibid.

[11] Lihat Michael Ridge. 2005. Agent-Neutral vs. Agent-Relative Reasons (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

[12] Cukup bagus membaca analisa Davidson untuk menjelaskan relasi rasionalitas dalam teori dan aksi, relasi kausal, sampai pada kesimpulan psychology as philosophy. Donald Davidson. 2001. Essays on Actions and Events (New York: Oxford University Press) hlm.211

About Herdito Sandi Pratama

Dosen Muda Filsafat di Dept. Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia; meminati filsafat ilmu pengetahuan, metodologi, epistemologi, filsafat ekonomi, dan filsafat politik.

Posted on January 22, 2009, in Filsafat. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: