Darwin dan Filsafat

200 tahun Charles Darwin
12 Pebruari 2009
________________________

Dua ratus tahun lalu, embrio itu benar-benar meninggalkan rahim sebagai seorang manusia. Sama seperti milyaran proses kelahiran lainnya, namun bedanya, anak ini akan membimbing generasi sesudahnya untuk mengerti bahwa mereka tidak sekedar muncul dari sperma yang ditanam dalam rahim ibu, melainkan jalan sangat panjang semenjak organisme mikro pertama muncul di planet ini. Lima puluh tahun setelah itu, dia memang mempublikasikan pikirannya dalam The Origin of Species, tapi buku itu menanggung beban yang sangat berat: kepercayaan lama bahwa manusia adalah pusat dari realitas, pusat dari seluruh pengetahuan yang mungkin. Darwin bukan orang pertama, tapi agaknya dia menjadi yang teratas untuk dipandang sebagai naturalis yang memberi kabar pada kita bahwa kita telah berubah sama sekali.

Decentring of Human
Nullius in Verba (tidak berdasar kata-kata siapapun)
-Royal Society-

Ernest Gellner mengkategorikan Darwin dalam kelompok orang yang telah melakukan decentring of human, bersama-sama dengan Copernicus, Galileo, dan Freud. Mereka telah menggeser kepercayaan lama tentang manusia sebagai pusat dari realitas. Sama seperti Copernicus yang menolak bumi –planit kediaman manusia- sebagai pusat semesta, Darwin juga menolak manusia sebagai esensi tunggal yang berketetapan. Dalam trees of life, Manusia yang bersama-sama dengan setiap yang kita kategorikan sebagai makhluk hidup, telah berevolusi dalam kurun waktu tertentu dari satu sel tertentu. Dalam skema itu, manusia dirobohkan dari puncak penciptaan sebagai sesuatu yang diafirmasi secara final oleh klaim-klaim agama. Evolusi Darwin adalah sebuah revolusi ilmu pengetahuan, yang dibangun dengan kebanggaan terhadap pengetahuan, telah tiba pada kesimpulan yang menusuk: bahwa manusia lepas dari jubah kebanggaan sebagai yang utuh status ontologisnya. Nyatanya, homo sapiens tidak lebih dari spesies yang lolos dalam seleksi alam, dan dalam proses yang demikian panjang itu memperoleh adaptasi kecerdasan yang memungkinkan upaya epistemologis dilakukan.

Kita bisa melacak asal-usul pertanyaan primordial mengenai realitas, yang kemudian menjadi dasar problem filosofis kemudian hari, pada Plato dan Aristoteles. Meskipun bukan mereka yang pertama, namun mulai mereka saja kita bisa mengenali dokumen yang menyebutkan bahwa filsafat pertama kali sangat berintensi mengejar pengetahuan yang penuh mengenai segalanya.

Apa nature dari seluruh keberadaan ini? Apa yang menyusunnya sehingga demikian adanya yang mampu kita pahami? Setiap kebudayaan memiliki perangkat jawabannya masing-masing, dalam filsafat sendiri, problem ini telah menjadi pertanyaan mendasar yang memprovokasi aliran pikiran sejak Yunani. Basis dasar realitas itu diupayakan dirangkum di dalam pengertian substansi. Upaya epistemologis yang dilakukan awalnya berupa pengandaian spekulatif mengenai alam semesta. Ini adalah aras baru dalam setiap usaha sistematis manusia dalam memahami dunianya, melalui serangkaian spekulasi yang pada mulanya menyelundup di dalam wilayah bernuansa religius. Perpindahan mitos ke logos, tidak serta-merta menegasi kriteria normatif dari pengetahuan manusia. Pemadatan spekulasi itu, sebut saja pra-ilmu pengetahuan, menjadi sebab mengapa sejarah epistemologi berujung pada finalitas, klaim-klaim fondasionalistik, dan total. Realitas kemudian dimengerti sebagai ‘seharusnya’ dan bukan pada ‘adanya’.

Biologi barangkali memang dimulai dengan sebuah upaya sistematis mengklasifikasi spesies. Aristoteles, yang disebut sebagai orang yang mula-mula melakukan taksonomi, menyokong pandangan esensialis bahwa spesies itu eternal. Ia pula yang mula-mula mengkategorisasi fitur-fitur organisme menurut kesamaan yang dimilikinya. Kategorisasi ini didasarkan pada klasifikasi divisi logis, misal “berkaki/tidak berkaki”, “berjalan/merayap”.

Selama berabad-abad, melalui Linnaeus, tipologi Aristotelian ini berlaku, hingga akhirnya Darwin melakukan revolusi terhadap esensalisme semacam itu. Teori evolusi yang diajukan Darwin, sebuah teori yang untuk tiba pada konklusi metodologisnya membutuhkan tahunan observasi, merupakan sebuah dasar untuk menolak gagasan esensialisme dengan menekankan kemampuan bervariasi mestilah ada oleh sebab seleksi alam dan transformasi yang terjadi di dalamnya. Sejak itu, dengan cepat, progresi natural mulai dijadikan pijakan dalam mengorganisir alam. Divisi logis terhadap spesies-spesies yang telah dilakukan Aristoteles kemudian digantikan dengan klasifikasi berdasarkan relasi geneologis, semacam cara berpikir sistem-pohon, meskipun pada perkembangan teori evolusi, tidak semua Darwinian kontemporer menyetujuinya. Biologi modern kemudian tiba pada kesimpulan bahwa ada satu pohon evolusionistik dari kehidupan untuk seluruh spesies –setidaknya ada 1.7 juta spesies- yang merupakan sebuah konsep sederhana mengenai sistematika phylogenetics. Skema ini merupakan afirmasi ilmiah atas fakta biodiversitas. Kenyataannya, belum seluruh spesies teridentifikasi dan terobservasi, namun teori ini telah menjadi limitasi bagi ketidaktahuan itu.

Epistemologi
Que sais-je? (What do I know?)
-Montaigne-

“when on board H.M.S Beagle, as naturalist, i was struck with certain facts in the distribution of the organic beings…”

Setidaknya, Descartes barangkali filsuf yang menegaskan (kembali) epistemologi fondasionalistik dengan diktum cogito ergo sum. Mengeksploitasi jebakan self reference, Descartes meneguhkan kebenaran ontologis diri melalui kegiatan epistemologis. Totalitas diri itu dimungkinkan lantaran penyangkalan atas pikiran adalah negasi atas diri sendiri. Sistem itu menyimpan kepastiannya sendiri, bahwa meragukan apapun justru membuktikan peragu itu ada, itulah diri. Di seberang, Hume meletakkan seluruh proposisi ke dalam kategori partikular. Pembagian antara proposisi analitik dan hipotetik yang mulai dikenalkan Berkeley, diafirmasi Hume dengan menganggap seluruh proposisi adalah partikular. Dengan begitu, kepastian menjadi tiada. Sama halnya, konsep diri pun menjadi absurd sebab eksistensi diri tidak lain sekedar kumpulan persepsi. Semakin intensif upaya mencari ‘pemilik’ dari diri ini, yang ditemui hanyalah properti demi properti berupa kualitas-kualitas perseptual.

Upaya epistemik tentu saja berkorelasi dengan status kesadaran, atau pikiran sebagai fitur kesadaran yang sering dianggap paling kentara. Descartes sudah membayangkan aku yang berpikir, namun seperti yang dipertanyakan oleh Dennett, bila diri tersusun dari milyaran sel yang saling berinteraksi, dan masing-masing bisa diuji secara empirik, lantas masih adakah tempat bagi konsep diri? Darwin telah menunjukkan bahwa manusia tidak lebih sebagai spesies yang bertahan hidup dan muncul sebagai hasil dari lolos seleksi alam. Kemudian hari, dengan ditemukannya struktur DNA oleh Francis Crick dan James Watson, teori Darwinian telah menemukan cara lebih tahan uji untuk menelusuri karakter dan silsilah genetis makhluk hidup, di antaranya manusia. Dengan pengetahuan bahwa kita tidak lebih dari fungsi biologis sebagai produk seleksi alam, di manakah kita bisa menegaskan lagi klaim-klaim lama kita tentang pencapaian-pencapaian epistemik kita?

Modus
Pada dasarnya biologi berkembang di dalam kerangka reduksionisme, yakni menempatkan objeknya sepenuhnya dalam fungsi biologis. Di dalam sejarah disiplin ini, nyatanya ada satu tesis metafisika yang disepakati oleh modus reduksionis dan antireduksionis, yaitu fisikalisme. Fisikalisme adalah sebuah tesis bahwa semua fakta, termasuk fakta biologis, dapat ditetapkan dengan fakta fisika dan kimia. Tepatnya, tidak ada peristiwa, kondisi, dan proses non-fisikal. Begitu juga, biologi tidak lain fisikal. Modus reduksionis berargumen bahwa tesis metafisika punya konsekuensi terhadap penjelasan biologis, yakni mesti lengkap, benar, dan akurat, serta lebih fundamental dalam biologi molekuler. Sementara antireduksionis menolak kesimpulan seperti ini dengan argumen bahwa penjelasan biologi non-molekuler memadai dan tidak memerlukan koreksi, kelengkapan, dan pendasaran makromolekuler.

Seiring kemajuan yang dicapai oleh biologi pasca-Darwin, tetap berlebihan untuk mengatakan bahwa kita telah mengetahui semuanya. Dunia-yang-mungkin masih mengindikasikan bahwa kita tetap tidak mengetahui keseluruhan, meskipun hasrat epistemik untuk menyusun the theory of everything agaknya mendorong kerja ilmiah. Namun, kita bisa menetapkan standar epistemik, yang kita katakan sebagai kerja ilmiah di mana Darwin adalah salah seorang yang menjadi eksponen dalam biologi. Penjelasan Darwin mengenai teori evolusi bisa jadi tidak merangkum seluruh aktivitas organisme, tapi melalui penyimpulan yang panjang, teori itu mestilah necessarily true. Artinya, teori itu mesti bisa menjelaskan fakta-fakta partikular yang sedang dikumpulkan terus-menerus. Ini membedakannya dengan putusan pengetahuan yang accidentally true. Perbedaannya terletak pada eksplanasi. Benar bahwa manusia berbeda dengan simpanse, ini adalah accidentally true. Sementara teori evolusi lebih mampu memberi eksplanasi mengapa fakta itu terjadi, ini yang kita sebut necessarilly true. Pembedaan ini tidak bisa menyangkal bahwa dunia-yang-mungkin masih punya banyak peluang untuk dimengerti secara berbeda. Yang membuat teori evolusi Darwin penting –dan nyatanya teori ini berevolusi- adalah limitasi terhadap ketidaktahuan yang lebih besar terhadap dunia-yang-mungkin itu.

Ekspansi Darwinian

Neurath has likened science to a boat which, if we are to rebuild it, we
must rebuild plank by plank while staying afloat in it. The philosopher
and the scientist are in the same boat….
-W.V Quine-

Francis Crick pernah mengungkapkan bahwa filsafat berurusan dengan problem tidak terselesaikan. Dalam studi kosmologi, Stephen Hawking dengan nada sama pun menyebut filsuf sebagai ilmuwan yang kehilangan pekerjaan. Apa yang dimaksud keduanya barangkali merujuk pada kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan, sementara filsafat masih bertekun dengan persoalan yang sama tanpa banyak ekspansi pengetahuan. Di dalam tubuh filsafat sendiri, eliminativisme, seperti yang muncul dari W.V Quine telah menyadari bahwa tidak ada gunanya menempatkan kriteria epistemik normatif, khas epistemologi, di atas yang deskriptif milik ilmu pengetahuan. Nyatanya, baik filsafat dan ilmu pengetahuan tidak bisa mengklaim pengetahuan paripurna. Sebagaimana sebuah teori bisa dirobohkan, epistemologi pun serupa. Ketidaklengkapan adalah nuansa yang kentara dalam wajah ilmu pengetahuan kontemporer. Dengan demikian, bukan hal yang mengejutkan bila pada akhirnya, filsafat dan ilmu pengetahuan, saling menginfiltrasi. Problem belakangan yang sedang berusaha dipecahkan banyak mengeksplorasi gagasan Darwinian dalam studi filsafat. Ekspansi Darwin telah tiba di tanah studi kebudayaan, studi kesadaran, bahasa dan psikologi.

Darwin banyak dikutuk sebab gagasannya telah menanggalkan status sentrum manusia. Tidak hanya itu, teori evolusi belakangan dimengerti sebagai substrate netral –sebagaimana Dennett definisikan- yang artinya menghapus mimpi Hegelian soal tujuan absolut. Seluruh rangkaian kehidupan bertopang di atas prinsip buta, sehingga kita hanya tahu cara bertahan (means) dan tidak tahu apa-apa tentang tujuan kita (ends). Darwin membawa ketakutan itu jauh ke kedalaman yang tidak pernah dibayangkan oleh orang kebanyakan, agamawan, dan filsuf.

Daftar Bacaan:

Dennett, Daniel. 1995. Darwin’s Dangerous Ideas (London: Penguin Books)

Hull, David L. dan Michael Ruse (ed.). 2007. The Cambridge Companion to Philosophy of Biology (New York: Cambridge University Press)

Peat, F. David. 2002. From Certainty To Uncertainty: The Story of Science and Ideas in The Twentieth Century (Washington DC: Joseph Henry Press)

Quine, W. V. dan J.S. Ullian. 1978. The Web of Belief (New York: McGraw-Hill)

Radick, Gregory dan Jonathan Hodge (ed.). 2003. The Cambridge Companion to Darwin (New York: Cambridge University Press)

About Herdito Sandi Pratama

Dosen Muda Filsafat di Dept. Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia; meminati filsafat ilmu pengetahuan, metodologi, epistemologi, filsafat ekonomi, dan filsafat politik.

Posted on February 16, 2009, in Filsafat. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: